Sabtu, 21 Desember 2013

Erastvisu #2

Perjalanan erastvisu kali ini akan mencapai titik yang sangat mengasyikan. baru ada dua lirik yang bisa saya post. Berikut lirik Liriknya

Wadah Antariksa

Berbaris bintang di wadah antariksa
Puing reruntuhan peradaban iringi jalan
Menuju ladang imaji milik Yang Maha
Menuju pembuluh nadi alam semesta

Bertumpuk masa di pelupuk mata
CakarMu yang menulah jiwa bertanggung jawab
Atas tubuh yang berterbangan melayang di angkasa
Atas mata yang melihat penuh wajah nestapa

Terkoyak sepi
Terombang-ambing
Malam

Di ruang hampa kau berteriak sekencang-kencangnya
Meledak seruan  bergema dari antah berantah

"Kaukan menjadi...."
"Kaukan menjadi..."
"Kaukan menjadi..."

Siklus Ruang Simulasi

Kau lumat khayal 
Imaji kau dekap
Ia buramkan batas
Engkau terlena

Petanda sirna
Penanda berkuasa
Tak ada yang nyata semuanya peta

Dan dipengulangan yang tak bertuan
Kau bergerumul diantaranya
Di kenyataan yang tak bertuan
Kau bergerumul di khayal

Lirik lagu Siklus Ruang Simulasi masih merupakan draft lalu untuk lirik-lirik lagu awal akan di post setelah EP pertama kami keluar. trims.







Sabtu, 07 Desember 2013

Diantara kesunyian andalan malam yang memberi ruang pada serangga-serangga kecil untuk riuh berbisik.
Kau menengadah.
Menghadap langit.
Dengan tangan terbuka.
Setengah terjaga.

Lekuk tidurmu membentuk rupa-rupa bunga mimpi krisna.
yang hampir nyata.

Sabtu, 23 November 2013

pengingat bahwa pernah ada masa dimana batas dibakar, tanggung jawab ditanggalkan dan esok hari adalah pengulangan atas hari ini yang tertunda.

Sendal Jepit
Untill The Cold No Longer Bites

Passing hours, same old pictures crowding all my day. Take my lesson in every second, but I will never learn. Cuz every time I try to look back, try to find what went so wrong. Cuz I don't wanna turn my face from every whining faces in my world. I'm going away from this parade. I'm closing my book before it's late, before I'm growing down and die. I know I'm gonna long for home, songbird, I'll be back someday until the sun no longer burns, until the cold no longer bites. Starting back at my fading pictures and the place I used to brag. My lips are smiling but tears keep falling. I shouldn't stay too long. Cuz every time I try to look back, try to find what went so wrong. Cuz I don't wanna turn my face from every whining faces in my world. I'm going away from this parade. I'm closing my book before it's late, before I'm growing down and die. I know I'm gonna long for home, songbird, I'll be back someday until the sun no longer burns, until the cold no longer bites. No longer bites. I'm going away from this parade. I'm closing my book before it's late, before I'm growing down and die. I know I'm gonna long for home, songbird, I'll be back someday until the sun no longer burns, until the cold no longer bites.

http://myowndeck.bandcamp.com/album/ini-bukan-album-metal

Senin, 11 November 2013

Erastvisu #1

Dua tahun terakhir ini saya sedang menenggelamkan diri pada satu cerita yang semoga dapat dibangun oleh lirik-lirik serta musik yang dimainkan oleh grup musik kolektif saya, Erastvisu. Membangun makna dari lirik dan mereduksi ide-ide panjang menjadi fragmen-fragmen lirik dapat dibilang tidak mudah bagi saya apalagi saya bukanlah seorang penulis atau pengamat tulisan yang ulet dan tekun membaca.Sejujur-jujurnya saya mencoba membangun makna dari intepretasi saya terhadap sebuah kata, cerita, konsep atau tulisan orang yang dimana makna-makna tersebut akhirnya dipepatkan dengan cerita yang saya usung.Terdapat beberapa kesulitan yang saya hadapi. Selain dari cerita yang saya angkat sangat klise, ia juga sangat subyektif sehingga sulit bagi saya untuk membangun garis-garis batas imaji yang dapat di representasi kan lewat lirik atau musik lalu saya juga kesulitan memilih konsistensi sebuah kata sehingga ia dapat membangun makna yang akhirnya dapat dimengerti walaupun pengertian seseorang sebenarnya tidak benar-benar saya butuhkan. Dibalik problem konsistensi kata dan representasi makna lewat lirik dan musik, saya juga mengalami kesulitan menggabungkan fragmen-fragmen konsep di otak saya menjadi satu keutuhan makna. Sejujur-jujurnya saya bingung, bingung bilamana seseorang meminta tanggung jawab atas karya saya, saya takut tidak mampu mempertahankannya sebagai sebuah fondasi yang kuat. Tetapi dibalik itu semua, saya senang Erastvisu telah menjadi sebuah keluarga kecil yang mampu terus menampun intepretasi, apresiasi serta semangat berkarya beberapa teman. Toh dibalik semua kolektif, apalagi sih yang dibutuhkan.
Dipikiranku kita sudah meninggal
Meninggalkan 3 orang anak, 2 orang cucu dan
Rumah di padang hijau lapang sekitaran Glasgow
Dengan foto keluarga kecil kita terpajang di dindingnya

Tapi nyatanya aku disini dan kau duduk jauh di ujung pelupuk

Selasa, 03 September 2013

Hanya saja aku bosan mengundang masa yang tak kunjung selesai berkunjung!
Bosan katamu?
Iya, kalau saja kita diberi pilihan untuk hidup seperti ini atau hidup yang didalamnya tidak mengenal kata diam, aku akan memilih yang kedua.
Gila.
Mungkin bagimu, bagiku tidak. Aku muak melihat orang-orang berdiri di pinggir transjakarta, bergerumul, mendorong satu sama lain untuk pulang menuju apa yang mungkin bagi mereka tujuan akhir. Bayangkan jika hidup ini hanya mengenal jalan! Atau lari! Kita tak perlu menunggu.
Mungkin kau hanya lelah kawanku, lelah karena menarasikan kelalahan manusia yang memang dengan memandangnya saja kau sudah lelah, apa lagi menarasikannya.
Ya, atau aku mungkin tak jauh berbeda dengan mereka.

*ditulis(dan disarankan dibaca) sambil dengerin Helplesness Blues-nya Fleet Foxes
*dari menit 02:44 sabi

#hhft

Senin, 26 Agustus 2013

23,5 Derajat

Kita dikandung oleh 140 karakter yang mengikat
Yang membias informasi
Yang melenakan mata
Yang meninabobokan dengan senandung pergerakan virtual

Lamban tapi pasti, kita menjadi generasi yang bosan melihat matahari
Yang mengagungkan senja diantara pegunungan
Yang memuja-muja kenaikan rembulan
Yang tidak mempedulikan pencarian makna penciptaan

Kita jadi robot yang dicekoki oleh patron-patron sesat
Kita jadi pecandu yang menderita akan adiksi kebohongan
Kita jadi antivirus bagi anomali-anomali sosial
Dan lebih parah dari perkiraanmu, kita jadi sistem!

Lalu bumi tetap berputar mirik 23,5 derajat dan narasi diatas akan menjadi debu diantara ribuan kata yang bergerak dengan kecepatan cahaya di dunia yang kita sebut maya.






#2

Lekukan tirus rembulan menemani keberadaan ratusan cahaya yang terlihat semakin dekat, yang datang entah darimana. Letupan demi letupan memadati kupingku seraya ratusan cahaya tersebut melemparkan sinar demi sinar ke arah pendudukan. Turunlah dari sinar tersebut sesuatu yang terlihat seperti binatang dengan cakar besi di bagian tangannya, bundaran halo diatas kepalanya dan sinar merah memenuhi matanya.Terjawablah macam terang yang Ia janjikan

Teriakan demi teriakan saling menimbun satu sama lain, memadati kota yang sudah cukup padat dengan kobaran api. Bau darah  setia menemani angin utara yang semakin kencang berhembus.Tanpa fikir panjang, ku ajak kau untuk berlari. Lari yang terlalu jauh untuk diingat tetapi terlalu dekat untuk dilupakan. Lari yang meninggalkan nyawa-nyawa untuk diregang dan tubuh-tubuh untuk dihunus dibelakangnya. Lari yang menyisakan tangis di mukamu dan kengerian di mataku.

Kau tanya padaku apa yang aku rasakan. Lalu kujawab singkat dengan tatapan dingin yang dengan cepat kutarik dan kubiarkan menjelajah kesekitar api yang terlihat semakin dekat mengelilingi.
Api yang seolah menyisakan kau dan aku.
Lalu kau berkata bahwa pemandangan ini sungguh menawan.
Katamu kau hawa dan aku adam.
Di waktu yang berbeda
Di kesempatan yang berbeda
Di penciptaan ulang.

Lalu kau ajak aku untuk berdansa

Sekarang?
Sekarang.
Disini?
Disini.
Di pekat ketiadaan.
Di ujung dunia.

Kau pegang halus pinggangku dengan tanan kananmu lalu kau tempatkan tangan kirimu diudara menengadah keatas, membiarkanku memimpin.
Mengayun kekiri
Mengayun kekanan
Gerakan memutar
Terus hingga kita sama-sama lupa bahwa kita sudah diangkasa,
ditarik sekumpulan sinar untuk lalu dipisahkan.


*ceritanya cerita dibalik lagu nya erastvisu
**tapi yang dibawah ini liriknya masi basa inggris









Minggu, 14 Juli 2013

Kita diberi waktu sedikit untuk melakukan banyak hal

Mengingat nama-nama orang yang diperempatan tadi kita lihat kasat mata
Mengikuti rambu lalu lintas ibukota
Memasang spion, helm dan jaket menghindari polisi di sebrang
Memikul beban sebagai anak pertama
Menahan perihnya kerangkeng proteksi orang tua
Menghibur diri lantaran kepuasan diri hilang dikikis ekspektasi eksternal
Menghitung kepala-kepala yang lalu lalang di atas transjakarta
Menggaji para buruh pabrik yang mungkin bulan depan akan dikeluarkan
Menuruti keinginan kekasih yang hamil muda
Memikirkan masa depan sambil menghabiskan sebatang rokok terakhir
Menghirup udara segar dieng dimalam hari
Meraut pensil di tengah mata kuliah
Mengandalkan orang yang tidak bisa diandalkan
Menutup botol aqua di tengah pertandingan sepak bola
Menjaga pos sambil menonton tv
Menghitung lembaran-lembaran soal ujian yang selesai dikoreksi
Mengajar anak-anak pedalaman papua
Mengambil hak-hak milik rakyat misik
Menjadi..

Banyak kan?
Semua hanya untuk nanti tidur menengadah manghadap tanah

Kamis, 27 Juni 2013

Perang dunia terakhir dapat dengan singkat merangkum seluruh keegoisan manusia. Manusia-manusia berjenggot dari timur tidak dapat lagi menahan emosinya atas para manusia berdagu belah dua di barat. Mereka mulai saling mengirimkan anak-anak muda mereka ke perbatasan masing-masing. Mereka saling memastika kesementaraan masing-masing.

Dua tombol, berjarak jutaan kilometer, ditekan di waktu yang bersamaan. Ribuan jamur ledakan hasil nuklir mewarnai bumi pada saat itu. Bumi terpecah belah. Atmosfer tidak dapat lagi menahan isi bumi yang berhamburan ke antariksa, gravitasi pun lari dari tanggung jawabnya. Kita akhirnya ditiadakan oleh kaum kita sendiri dan meniadakan bumi, menghapusnya dari bima sakti.

Kursi itu, kursi kayu. Kursi itu menyaksikan berterbangannya benda-benda bumi. Seperti benda yang lain kursi itu pun menuju antah berantah. Melewati Mars lalu Jupiter, menjadi saksi bisu adu lempar gravitasi antar planet. Semua planet yang menolaknya, cepat atau lamban akan menjadi bintang yang seakan berdiam dibelakangnya. Monolith berterbangan. Cahaya adu cepat. Asteroid berbelok arah. Planet beradu gravitasi, saling menarik untuk akhirnya saling menghancurkan satu sama lain.

Kursi itu sendiri
Di pluto
Dan setelah berjuta tahun cahaya perjalanan yang ia tempuh
Aku mendudukinya.


Minggu, 23 Juni 2013

Saya belum pernah menyaksikan secara langsung proses hilangnya hidup seseorang, sebelum hal tersebut terjadi pada kakek saya sendiri.
Ia seorang professor, dosen pembimbing, pengajar
Ia seorang akademisi
Asumsi awalnya adalah ia seorang yang mendewakan logika
tapi tidak
Tuhan lebih dulu dicintainya

Saat ia menghembuskan nafas terakhirnya, hal yang saya ingat waktu itu adalah saya mendapati diri saya berlari menuju jendela terdekat.
Berharap menemukan sisa-sisa proyeksi astral, roh, nyawa atau apapun itu berterbangan diangkasa
Tetapi yang saya temukan hanyalah bintang yang berbaris rapi berdiam di langit malam
Mungkin ia telah menjadi salah satu dari mereka

Atau tidak!

Ia tentu tidak akan mau menjadi bintang yang hanya berdiam!
Toh dari dulu ia memang tidak betah untuk hanya berdiam diri.
Ia pasti melayang layang ke antah berantah!
Melihat riuh dunia dari ramainya bintang di antariksa untuk akhirnya pulang ke rumah putih besar di unjung jagad
Bergabung dengan kumpulan elektron lain
Bergabung dengan Yang Maha Terang, Yang Maha Kuasa.

Selamat jalan ki, cucu mu ini akan menjaga istrimu , anaknya , dan cucumu yang lain.

Sabtu, 08 Juni 2013

Salah

Diantara ratusan kode yang tak tersampaikan dan ribuan lemparan pesan yang gagal lewati tembok,
saya minta maaf dan kalau memang wanita dari venus dan pria dari mars,kamu mungkin akan menjadi satu-satunya wanita dari pluto.




Minggu, 19 Mei 2013

Pementasan "Waktunya Lelaki"

 


Untuk mengkaji pementasan "Waktunya Lelaki" yang diadakan rabu kemarin oleh Teater Agora mungkin diluar kapabilitas saya. Yang saya bisa ceritakan dari pementasan ini mungkin proses yang terjadi didalamnya. "Waktunya Lelaki" merupakan pementasan panjang pertama saya dan bukan sesuatu yang mudah bagi saya dan teman-teman yang membuat musik. Kami terkadang dibingungkan oleh beberapa hal seperti adu pendapat tentang bagaimana kita akan melatari sebuah scene lucu yang sebenarnya merupakan scene yang sedih jika dilihat dari prespektif pemain bukan dari prespektif penonton. Belum lagi konflik personal yang mengganggu kinerja profesional grup. Banyak yang menjadi kendala dibalik lahirnya musik latar pementasan ini. Jika dikatakan puas akan hasilnya, tentu tidak, hasil musik latar dari pementasan ini dapat dibilang jauh dari ekspektasi saya. Ada beberapa lubang kosong yang masih harus diisi, belum lagi kendala teknis saat pementasan lalu  bagian intro dan outro yang masih perlu dilatih. Lalu apa yang saya dapat dari pementasan kali ini? Yang saya dapat adalah bahwa membuat musik latar untuk pementasan yang panjangnya 2 jam bukanlah hal yang mudah dibutuhkan kesamaan visi, komitmen dan disiplin dari grup yang membuat. Selain itu saya mendapatkan kelegaan, lega bahwa saya sudah mencoba.

Berikut salah satu musik latar yang paling saya ingat lalu saya kembangkan sedikit.

Rabu, 13 Maret 2013

Guided by Voices - Motor Away

Saya tak pernah bisa mengerti mengapa orang membawa kendaraan begitu cepat di jalanan Jakarta. Jujur, saya tak pernah membawa diatas 60 kilometer per jam. Mengendarai kendaraan, apalagi sendiri, menurut saya adalah pengalaman yang sangat spiritual. Apalagi jika jarak yang ditempuh tidak dekat. Sehingga bagi saya mengedarai kendaraan sendirian  merupakan pengalaman  yang harusnya dinikmati.

             Bayangkan kita harus konsisten melihat garis-garis putih yang selalu berjalan ke belakang belum lagi kita harus terus mengisi kepala kita dengan hal-hal yang kadang penting dan kadang juga tidak penting agar kita dapat fokus melihat jalan dan obyek sekitarnya. Apalagi jika kita mengendarai kendaraan sendirian di malam hari, siapa yang tidak terkesima dengan cahaya lampu jalan yang berlari mengiringi? Atau dengan bulan yang  statis mengikuti dari atas?

              Hal-hal seperti diatas lah yang saya rasakan sekarang saat saya mendengarkan lagu dari Guided By Voices yang berjudul Motor Away. Lagu tersebut berhasil, tanpa alasan yang jelas, membuat saya ingin mengulangi perjalanan dari Bogor ke Depok yang saya lakukan tadi pagi. Membuat saya ingin menikmati keutuhan jalan Jakarta yang sepi di minggu dini hari atau menikmati pukulan asap knalpot kopaja di jalanan Jakarta di siang hari. Lagu tersebut rasanya membenarkan saya untuk melebihi 60 kilometer per jam.

“Speed on!!”

Minggu, 10 Maret 2013

Motion City Soundtrack Live In Bandung : Pertemuan Dengan Kawan Lama


Pertemuan saya dengan musik-musik dari Motion City Soundtrack dapat dibilang sebuah perjalanan yang melelahkan. Waktu itu (sekitar tahun 2008-an) sekolah saya sedang keranjingan mengidentitaskan diri dengan satu aliran musik. Kami yang bermain musik di sebuah band bisa dibilang, secara tidak langsung, dipaksa oleh "tongkrongan" sendiri untuk memilih salah satu dari 4 genre yang waktu itu sedang hip, genre tersebut adalah Hardcore, metal, pop punk dan jazz.
 Saya tak pernah cocok dengan Hardcore, menurut saya secara pribadi Hardcore terlalu cepat, terlalu kasar dan saya tidak pernah suka moshpit. Lalu metal tak pernah jadi pilihan saya sebab hingga sekarang pun saya masih belum bisa membaca nama band metal yang ditulis dengan aksara yang mirip dengan bentuk akar  yang  kebanyakan  tertera di pamplet di jalanan ibu kota dan satu alasan lain yaitu saya tak pernah suka pemujaan terhadap kematian, mayat serta gerbang neraka tentu dengan alasan karena saya suka sekali hidup dan belum ada rencana setelahnya. Tercoretnya hardcore dan metal dari list pilihan genre, menyisakan saya jazz dan pop punk. Dilahirkan dari keluarga dengan keadaan finansial yang biasa saja membuat saya kembali harus mencoret Jazz dari list tersebut, sebab saya masih belum mampu membeli kemeja bagus atau nongkrong di café-café mahal yang biasa  menampilkan musisi-musisi jazz tiap weekend.
Semua proses seleksi diatas akhirnya menyisakan pop punk, tetapi harus saya akui bahwa saya memang menyukai aliran tersebut. Pop punk berhasil menggaet hati saya dengan riff gitar yang simpel, lirik-lirik yang diangkat dari tema sehari hari seperti cinta  yang ditunjukan kepada kelompok “cheerleader”(sebutan untuk kelompok wanita cantik yang nge-“geng” di sma saya) yang tak terbalaskan dan  vokal pop yang catchy lengkap dengan bagi suara nya.
Harus diakui bahwa model Pop punk yang sedang ngetren di masa tersebut adalah model pop punk  yang dibumbui suara-suara dari synth(dimasa itu, seketika, microkorg jadi laku, mungkin bisa dibilang penjualan microkorg ditahun tersebut mencapai peak-nya) dan harus diakui juga bahwa salah satu band yang berlari dengan kecepatan maksimum ke arah pendengar muda semacam saya adalah, tidak lain tidak bukan, ya anda benar, Pee Wee Gaskins.
Dari awal kedatangan mereka jujur saya sangat tertarik. Merupakan sebuah tereboson bagi saya waktu itu yang melulu mendengarkan Green Day dan Blink 182 (tanpa mendengar album terakhirnya  yah, dimana Tom Delonge mulai memasukan unsur-unsur elektronik yang nantinya ia pakai di AVA). Saya mulai mengunduh berbagai lagu dari myspace mereka, dari Tatiana hingga You Throw The Party We Get The Girls(lagu yang menurut saya jauh dari konsep Dork, Geek atau apalah itu  yang menjadi identitas mereka sekarang).
Merupakan kebiasaan saya untuk selalu mencari band  yang “mirip-mirip” dengan band yang sedang saya dengarkan. Pencarian tersebut saya mulai dengan pertemuan saya dengan Forever The Sickest Kids yang menurut saya mereka memang litellary sick. Tidak tahan dengan gaya musik  apalagi gaya rambut mereka, saya kembali melakukan perselancaran saya di dunia maya dan diantara hiruk pikuk pertemanan myspace, saya menemukan Motion City Soundtrack di Top Friends salah satu teman myspace saya, seketika saya jatuh cinta dengan “Everything Is Allright.”
Semakin saya mengikuti musik dari Motion City Soundtrack semakin saya terbawa dengan gaya Justin Pierre dalam menceritakan berbagai masalah hidupnya dan dari rilisan-rilisannya kita dapat melihat perubahan cara pandang  Justin Pierre terhadap masalah-masalah tersebut. Kita dapat melihat bagaimana ia mengajak kita untuk wasted, fucked up and die di L.G Fuad lalu  tak lama ia mengajak kita untuk memikirkan hidup ini dari bagaimana kita melihat kematian di Everyone Will Die. Musik mereka menemukan momentum pendewasaan di album “Go.” Belum habis saya menghapal album “Go”, saya dikagetkan dengan kabar bahwa mereka akan melakukan tur kecil di Indonesia yang  di organisir oleh Heaven Rec, label yang sepengetahuan saya menaungi Disconnected, Closehead serta beberapa band pop punk lain.
Begitu mendengar mereka akan menyambangi Indonesia tanpa fikir panjang saya langsung mengatur rencana untuk menonton mereka. Kelewatan presale pertama saya langsung beli presale kedua  tepat satu hari sebelum hajatan tersebut digelar. Bermodalkan nebeng dengan teman dan uang didompet yang menipis,  saya berangkat ke Bandung.
Saya datang sangat terlambat ke venue karena memang saya berangkat terlalu siang dan lokasi venue  yang lumayan terpencil. Begitu sampai saya dikagetkan dengan sedikitnya orang yang berada di area sekitar  venue dan gerbang  yang seharusnya sudah dibuka tapi nyatanya masih dalam proses penukaran tiket. Yang membuat saya semakin kaget dan sedikit kecewa adalah saya masih harus menunggu kira-kira setengah jam lagi hingga akhirnya gerbang masuk dibuka.
Gerbang pun dibuka, kami dipaksa mengantri memblokade jalan yang memperlihatkan ketidak siapan penyelenggara acara dalam mengatur antrian. Setelah mengantri tidak terlalu lama, saya akhirnya masuk ke dalam venue. Begitu melihat bentuk ruangan yang luas dan memiliki tribun serta bentuk yang menjorok ke atas saya langsung teringat akan auditorium kampus saya y yang memiliki akustik ruangan  yang kurang cocok untuk penampilan musik.
Perkiraan saya ternyata benar,  penangan an sound yang tidak baik menambah buruknya efek dari akustik ruangan yang tidak baik juga. Intro  yang berupa loop drum yang dimainkan dari Ipad segera membenarkan asumsi saya sebelumnya. Suara keluaran  yang terdengar seolah kabur entah kemana serta drum yang terdengar  tidak tegas yang ikut mengaburkan suara-suara lain merupakan hal yang saya dengar di 1 menit pertama lagu “My Favourite Accident” yang merupakan lagu pertama yang mereka mainkan.
Selang tiga lagu akhirnya Justin Pierre sang vokalis menyapa penonton. Begitu buruknya akustik ruangan dan sound yang disediakan masih terasa bahkan hingga Justin Pierre berbicara. Saya yakin semua yang ada di tempat tersebut tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang sebenarnya J        ustin katakan. Hanya beberapa hal yang dapat saya dengar  saat itu,  yaitu “….Great to be here” dan “…our next song.”
            Pada lagu ke empat , “When You’re Around”, sound mulai membaik dan saya mulai dapat menikmati penampilan mereka. Mereka dapat dibilang bermain dengan rapi bahkan disela-sela part lead guitar yang dimainkan oleh Justin Pieere, ia masih sempat untuk berdansa ala robot. Tetapi ada satu hal yang membuat saya kurang terkesima, yaitu kegiatan meludah yang oleh Jesse Johnson (pemain keyboard/synth) konsisten lakukan ditiap lagu Hal tersebut cukup mengganggu saya.
Selain kebiasaan meludah Jesse Johnson mereka , ada hal lain yang mengganggu saya  yaitu crowd yang jumlahnya jauh dari ekspektasi saya dan nampak seperti crowd bayaran. Mereka bahkan tidak berteriak di part-part lagu yang menurut saya harusnya menjadi punchline dilagu tersebut atau setidaknya nampak excited dengan beberapa silent act  yang dilakukan oleh Justin Pierre. Tanpa memperdulikan hal tersebut, saya terus berteriak meminta lagu “LG Fuad” disela  pergantian lagu.
            “LG Fuad” pun dimainkan tepat setelah lagu “Timelines” yang menjadi single di album baru mereka. Bulu kuduk saya mulai berdiri, ia tidak mempedulikan betapa buruknya sound  atau betapa “anehnya” crowd yang hadir. Saya mulai ikut bernyanyi kata demi kata di lagu tersebut, meneriakan “Lets get fucked up and die” dan “In this department”  tepat dibagian kata tersebut muncul. Pengalaman yang mengingatkan saya akan masa-masa SMA saya yang memang sedikit fucked up.
            Selang dua lagu tanpa jeda, Justin Pierre mulai memainkan petikan awal lagu “Even If It Kills Me.” Saya refleks menengok ke belakang ke arah kawan saya yang sangat menyukai lagu tersebut. “Gw merinding boy” merupakan balasan yang saya dapat dari tengokan tersebut, lalu saya segera kembali melihat ke arah panggung.  Seketika, entah datang darimana, saya mulai menitikan sedikit air mata.
            Mereka mengakhiri set list mereka dengan “Everything’s  Allright” lalu menutup penampilan mereka di Bandung dengan dua buah encore  yaitu “Dissapear” dan “Hold Me Down”. Justin menutup dengan mempromosikan tujuan terakhir tur mereka yaitu Yogyakarta serta berterima kasih dan memuji crowd. Template semua rockstar.
            Walaupun banyak lagu yang saya harap dimainkan seperti “Resolution”, “Everyone Will Die”, “It Had To Be You”  atau “Make Out Kids” tidak dimainkan, tetapi saya lega karena semua lagu yang terdapat di setlist mereka adalah lagu-lagu  yang  sangat saya hafal. Disamping sound yang buruk, penampilan mereka yang terlihat setengah hati dan crowd  yang tidak seperti saya bayangkan, dapat dibilang saya sangat menikmati penampilan  Motion City Soundtrack malam itu. Menonton mereka, bagi saya, dapat dianalogikan seperti bertemu sahabat-sahabat lama, dimana dalam keadaan apapun saya selalu dapat menemukan dan membuka kembali memori-memori masa lalu yang sentimentil.