Minggu, 10 Maret 2013

Motion City Soundtrack Live In Bandung : Pertemuan Dengan Kawan Lama


Pertemuan saya dengan musik-musik dari Motion City Soundtrack dapat dibilang sebuah perjalanan yang melelahkan. Waktu itu (sekitar tahun 2008-an) sekolah saya sedang keranjingan mengidentitaskan diri dengan satu aliran musik. Kami yang bermain musik di sebuah band bisa dibilang, secara tidak langsung, dipaksa oleh "tongkrongan" sendiri untuk memilih salah satu dari 4 genre yang waktu itu sedang hip, genre tersebut adalah Hardcore, metal, pop punk dan jazz.
 Saya tak pernah cocok dengan Hardcore, menurut saya secara pribadi Hardcore terlalu cepat, terlalu kasar dan saya tidak pernah suka moshpit. Lalu metal tak pernah jadi pilihan saya sebab hingga sekarang pun saya masih belum bisa membaca nama band metal yang ditulis dengan aksara yang mirip dengan bentuk akar  yang  kebanyakan  tertera di pamplet di jalanan ibu kota dan satu alasan lain yaitu saya tak pernah suka pemujaan terhadap kematian, mayat serta gerbang neraka tentu dengan alasan karena saya suka sekali hidup dan belum ada rencana setelahnya. Tercoretnya hardcore dan metal dari list pilihan genre, menyisakan saya jazz dan pop punk. Dilahirkan dari keluarga dengan keadaan finansial yang biasa saja membuat saya kembali harus mencoret Jazz dari list tersebut, sebab saya masih belum mampu membeli kemeja bagus atau nongkrong di café-café mahal yang biasa  menampilkan musisi-musisi jazz tiap weekend.
Semua proses seleksi diatas akhirnya menyisakan pop punk, tetapi harus saya akui bahwa saya memang menyukai aliran tersebut. Pop punk berhasil menggaet hati saya dengan riff gitar yang simpel, lirik-lirik yang diangkat dari tema sehari hari seperti cinta  yang ditunjukan kepada kelompok “cheerleader”(sebutan untuk kelompok wanita cantik yang nge-“geng” di sma saya) yang tak terbalaskan dan  vokal pop yang catchy lengkap dengan bagi suara nya.
Harus diakui bahwa model Pop punk yang sedang ngetren di masa tersebut adalah model pop punk  yang dibumbui suara-suara dari synth(dimasa itu, seketika, microkorg jadi laku, mungkin bisa dibilang penjualan microkorg ditahun tersebut mencapai peak-nya) dan harus diakui juga bahwa salah satu band yang berlari dengan kecepatan maksimum ke arah pendengar muda semacam saya adalah, tidak lain tidak bukan, ya anda benar, Pee Wee Gaskins.
Dari awal kedatangan mereka jujur saya sangat tertarik. Merupakan sebuah tereboson bagi saya waktu itu yang melulu mendengarkan Green Day dan Blink 182 (tanpa mendengar album terakhirnya  yah, dimana Tom Delonge mulai memasukan unsur-unsur elektronik yang nantinya ia pakai di AVA). Saya mulai mengunduh berbagai lagu dari myspace mereka, dari Tatiana hingga You Throw The Party We Get The Girls(lagu yang menurut saya jauh dari konsep Dork, Geek atau apalah itu  yang menjadi identitas mereka sekarang).
Merupakan kebiasaan saya untuk selalu mencari band  yang “mirip-mirip” dengan band yang sedang saya dengarkan. Pencarian tersebut saya mulai dengan pertemuan saya dengan Forever The Sickest Kids yang menurut saya mereka memang litellary sick. Tidak tahan dengan gaya musik  apalagi gaya rambut mereka, saya kembali melakukan perselancaran saya di dunia maya dan diantara hiruk pikuk pertemanan myspace, saya menemukan Motion City Soundtrack di Top Friends salah satu teman myspace saya, seketika saya jatuh cinta dengan “Everything Is Allright.”
Semakin saya mengikuti musik dari Motion City Soundtrack semakin saya terbawa dengan gaya Justin Pierre dalam menceritakan berbagai masalah hidupnya dan dari rilisan-rilisannya kita dapat melihat perubahan cara pandang  Justin Pierre terhadap masalah-masalah tersebut. Kita dapat melihat bagaimana ia mengajak kita untuk wasted, fucked up and die di L.G Fuad lalu  tak lama ia mengajak kita untuk memikirkan hidup ini dari bagaimana kita melihat kematian di Everyone Will Die. Musik mereka menemukan momentum pendewasaan di album “Go.” Belum habis saya menghapal album “Go”, saya dikagetkan dengan kabar bahwa mereka akan melakukan tur kecil di Indonesia yang  di organisir oleh Heaven Rec, label yang sepengetahuan saya menaungi Disconnected, Closehead serta beberapa band pop punk lain.
Begitu mendengar mereka akan menyambangi Indonesia tanpa fikir panjang saya langsung mengatur rencana untuk menonton mereka. Kelewatan presale pertama saya langsung beli presale kedua  tepat satu hari sebelum hajatan tersebut digelar. Bermodalkan nebeng dengan teman dan uang didompet yang menipis,  saya berangkat ke Bandung.
Saya datang sangat terlambat ke venue karena memang saya berangkat terlalu siang dan lokasi venue  yang lumayan terpencil. Begitu sampai saya dikagetkan dengan sedikitnya orang yang berada di area sekitar  venue dan gerbang  yang seharusnya sudah dibuka tapi nyatanya masih dalam proses penukaran tiket. Yang membuat saya semakin kaget dan sedikit kecewa adalah saya masih harus menunggu kira-kira setengah jam lagi hingga akhirnya gerbang masuk dibuka.
Gerbang pun dibuka, kami dipaksa mengantri memblokade jalan yang memperlihatkan ketidak siapan penyelenggara acara dalam mengatur antrian. Setelah mengantri tidak terlalu lama, saya akhirnya masuk ke dalam venue. Begitu melihat bentuk ruangan yang luas dan memiliki tribun serta bentuk yang menjorok ke atas saya langsung teringat akan auditorium kampus saya y yang memiliki akustik ruangan  yang kurang cocok untuk penampilan musik.
Perkiraan saya ternyata benar,  penangan an sound yang tidak baik menambah buruknya efek dari akustik ruangan yang tidak baik juga. Intro  yang berupa loop drum yang dimainkan dari Ipad segera membenarkan asumsi saya sebelumnya. Suara keluaran  yang terdengar seolah kabur entah kemana serta drum yang terdengar  tidak tegas yang ikut mengaburkan suara-suara lain merupakan hal yang saya dengar di 1 menit pertama lagu “My Favourite Accident” yang merupakan lagu pertama yang mereka mainkan.
Selang tiga lagu akhirnya Justin Pierre sang vokalis menyapa penonton. Begitu buruknya akustik ruangan dan sound yang disediakan masih terasa bahkan hingga Justin Pierre berbicara. Saya yakin semua yang ada di tempat tersebut tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang sebenarnya J        ustin katakan. Hanya beberapa hal yang dapat saya dengar  saat itu,  yaitu “….Great to be here” dan “…our next song.”
            Pada lagu ke empat , “When You’re Around”, sound mulai membaik dan saya mulai dapat menikmati penampilan mereka. Mereka dapat dibilang bermain dengan rapi bahkan disela-sela part lead guitar yang dimainkan oleh Justin Pieere, ia masih sempat untuk berdansa ala robot. Tetapi ada satu hal yang membuat saya kurang terkesima, yaitu kegiatan meludah yang oleh Jesse Johnson (pemain keyboard/synth) konsisten lakukan ditiap lagu Hal tersebut cukup mengganggu saya.
Selain kebiasaan meludah Jesse Johnson mereka , ada hal lain yang mengganggu saya  yaitu crowd yang jumlahnya jauh dari ekspektasi saya dan nampak seperti crowd bayaran. Mereka bahkan tidak berteriak di part-part lagu yang menurut saya harusnya menjadi punchline dilagu tersebut atau setidaknya nampak excited dengan beberapa silent act  yang dilakukan oleh Justin Pierre. Tanpa memperdulikan hal tersebut, saya terus berteriak meminta lagu “LG Fuad” disela  pergantian lagu.
            “LG Fuad” pun dimainkan tepat setelah lagu “Timelines” yang menjadi single di album baru mereka. Bulu kuduk saya mulai berdiri, ia tidak mempedulikan betapa buruknya sound  atau betapa “anehnya” crowd yang hadir. Saya mulai ikut bernyanyi kata demi kata di lagu tersebut, meneriakan “Lets get fucked up and die” dan “In this department”  tepat dibagian kata tersebut muncul. Pengalaman yang mengingatkan saya akan masa-masa SMA saya yang memang sedikit fucked up.
            Selang dua lagu tanpa jeda, Justin Pierre mulai memainkan petikan awal lagu “Even If It Kills Me.” Saya refleks menengok ke belakang ke arah kawan saya yang sangat menyukai lagu tersebut. “Gw merinding boy” merupakan balasan yang saya dapat dari tengokan tersebut, lalu saya segera kembali melihat ke arah panggung.  Seketika, entah datang darimana, saya mulai menitikan sedikit air mata.
            Mereka mengakhiri set list mereka dengan “Everything’s  Allright” lalu menutup penampilan mereka di Bandung dengan dua buah encore  yaitu “Dissapear” dan “Hold Me Down”. Justin menutup dengan mempromosikan tujuan terakhir tur mereka yaitu Yogyakarta serta berterima kasih dan memuji crowd. Template semua rockstar.
            Walaupun banyak lagu yang saya harap dimainkan seperti “Resolution”, “Everyone Will Die”, “It Had To Be You”  atau “Make Out Kids” tidak dimainkan, tetapi saya lega karena semua lagu yang terdapat di setlist mereka adalah lagu-lagu  yang  sangat saya hafal. Disamping sound yang buruk, penampilan mereka yang terlihat setengah hati dan crowd  yang tidak seperti saya bayangkan, dapat dibilang saya sangat menikmati penampilan  Motion City Soundtrack malam itu. Menonton mereka, bagi saya, dapat dianalogikan seperti bertemu sahabat-sahabat lama, dimana dalam keadaan apapun saya selalu dapat menemukan dan membuka kembali memori-memori masa lalu yang sentimentil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar