Sabtu, 17 November 2012

Bungabel


Ada beberapa hal yang menurut saya buruk di skena musik kampus saya. Pertama, seseorang yang awam musik dapat dengan mudah mengkategorikan pendengar musik di kampus menjadi beberapa kategori. Dari mulai pendengar classic rock, pendengar musik sikadelik jadul, pendengar musik pop jazz santai dan pendengar musik hip "hari ini" (koreksi saya sebebasnya  di bagian mana saja). Dengan tidak beragamnya jenis pendengar dapat diasumsikan sangat sedikit juga ragam yang dapat diterima skena tersebut. Kedua, acara musik yang sebagian besar masih mengedepankan kuantitas band daripada kualitas dan konsep  "Guest Star" yang dilebih-lebihkan. Hal terakhir yang mengganggu saya adalah kegemaran para penggiat musik untuk membawakan lagu orang. Satu prinsip yang harusnya, menurut saya pribadi, dipegang oleh setiap musisi di dunia yaitu, sejelek-jeleknya lagu sendiri ia lebih baik dibandingkan lagu orang yang dimainkan dengan konsep yang sama. Untuk memainkan lagu orang saat live menurut saya merupakan hal yang sangat berat, karena jika kita memainkannya lebih buruk dari orang yang menciptakannya maka kita akan terlihat sangat-sangat buruk. Coba bayangkan jika The SIGIT masih memainkan AC/DC atau musik hard rock lainnya atau Nidji yang terus-terusan memainkan Coldplay atau musik british lainnya, tentu mereka tidak akan sebaik sekarang bukan? Tetapi, sekali lagi, diantara puluhan corak warna musik yang terlihat sama dan membosankan saya menemukan satu yang menjadi anomali diantara yang lain. Mereka menyebut diri mereka Bungabel.

Entah sejak kapan mereka berdiri dan sudah berapa lagu yang mereka miliki, yang saya tahu hanyalah mereka cukup membawa angin segar untuk ukuran skena musik kampus yang mulai menjenuh dan cukup unik untuk ukuran skena musik yang lebih luas. Satu kata yang terbayang saat menonton Bungabel yaitu "KETAT." Ya! Ketat! Entah dilihat darimana atau didengar dari arah mana, tapi kata tersebut lah yang terngiang di kepala saya saat menonton Bungabel pertama kali beberapa bulan yang lalu. Pokoknya ketatlah! Entah dari riff gitar yang nakal atau dari progresi chord yang standar tapi dibungkus dengan aransemen yang tidak membosankan. Mmm, saya akan mengambil satu contoh bagian lagu dimana menurut saya bagian tersebut sederhana tetapi dibungkus dengan cukup pintar. Pada lagu "Melayang", progresi chord dapat dibilang tidak terlalu liar, tetapi sang gitaris dapat membuatnya tidak membosankan dengan menambahkan efek reverse pada bagian dimana sang vokalis bernyanyi sehingga aransemen mendapatkan dinamikanya. Hal-hal kecil seperti itulah yang membuat satu lagu dengan progresi chord yang standar dapat dikatakan tidak membosankan dan hal-hal besar seperti berhenti memainkan lagu orang dan mencoba memainkan lagu sendirilah yang dapat meninggalkan kesan kuat pada penonton.

Hingga sekarang masih sedikit yang semacam Bungabel di skena musik saya, bukan secara musik tapi secara kepercayaan diri. Sekali lagi,menurut saya memainkan lagu orang dengan baik dapat dikategorikan cukup baik, tetapi memainkan lagu sendiri dengan jelek dapat dikategorikan luar biasa. Sekian dan terimakasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar