Perang dunia terakhir dapat dengan singkat merangkum seluruh keegoisan manusia. Manusia-manusia berjenggot dari timur tidak dapat lagi menahan emosinya atas para manusia berdagu belah dua di barat. Mereka mulai saling mengirimkan anak-anak muda mereka ke perbatasan masing-masing. Mereka saling memastika kesementaraan masing-masing.
Dua tombol, berjarak jutaan kilometer, ditekan di waktu yang bersamaan. Ribuan jamur ledakan hasil nuklir mewarnai bumi pada saat itu. Bumi terpecah belah. Atmosfer tidak dapat lagi menahan isi bumi yang berhamburan ke antariksa, gravitasi pun lari dari tanggung jawabnya. Kita akhirnya ditiadakan oleh kaum kita sendiri dan meniadakan bumi, menghapusnya dari bima sakti.
Kursi itu, kursi kayu. Kursi itu menyaksikan berterbangannya benda-benda bumi. Seperti benda yang lain kursi itu pun menuju antah berantah. Melewati Mars lalu Jupiter, menjadi saksi bisu adu lempar gravitasi antar planet. Semua planet yang menolaknya, cepat atau lamban akan menjadi bintang yang seakan berdiam dibelakangnya. Monolith berterbangan. Cahaya adu cepat. Asteroid berbelok arah. Planet beradu gravitasi, saling menarik untuk akhirnya saling menghancurkan satu sama lain.
Kursi itu sendiri
Di pluto
Dan setelah berjuta tahun cahaya perjalanan yang ia tempuh
Aku mendudukinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar