Senin, 11 November 2013
Erastvisu #1
Dua tahun terakhir ini saya sedang menenggelamkan diri pada satu cerita yang semoga dapat dibangun oleh lirik-lirik serta musik yang dimainkan oleh grup musik kolektif saya, Erastvisu. Membangun makna dari lirik dan mereduksi ide-ide panjang menjadi fragmen-fragmen lirik dapat dibilang tidak mudah bagi saya apalagi saya bukanlah seorang penulis atau pengamat tulisan yang ulet dan tekun membaca.Sejujur-jujurnya saya mencoba membangun makna dari intepretasi saya terhadap sebuah kata, cerita, konsep atau tulisan orang yang dimana makna-makna tersebut akhirnya dipepatkan dengan cerita yang saya usung.Terdapat beberapa kesulitan yang saya hadapi. Selain dari cerita yang saya angkat sangat klise, ia juga sangat subyektif sehingga sulit bagi saya untuk membangun garis-garis batas imaji yang dapat di representasi kan lewat lirik atau musik lalu saya juga kesulitan memilih konsistensi sebuah kata sehingga ia dapat membangun makna yang akhirnya dapat dimengerti walaupun pengertian seseorang sebenarnya tidak benar-benar saya butuhkan. Dibalik problem konsistensi kata dan representasi makna lewat lirik dan musik, saya juga mengalami kesulitan menggabungkan fragmen-fragmen konsep di otak saya menjadi satu keutuhan makna. Sejujur-jujurnya saya bingung, bingung bilamana seseorang meminta tanggung jawab atas karya saya, saya takut tidak mampu mempertahankannya sebagai sebuah fondasi yang kuat. Tetapi dibalik itu semua, saya senang Erastvisu telah menjadi sebuah keluarga kecil yang mampu terus menampun intepretasi, apresiasi serta semangat berkarya beberapa teman. Toh dibalik semua kolektif, apalagi sih yang dibutuhkan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar