Untuk mengkaji pementasan "Waktunya Lelaki" yang diadakan rabu kemarin oleh Teater Agora mungkin diluar kapabilitas saya. Yang saya bisa ceritakan dari pementasan ini mungkin proses yang terjadi didalamnya. "Waktunya Lelaki" merupakan pementasan panjang pertama saya dan bukan sesuatu yang mudah bagi saya dan teman-teman yang membuat musik. Kami terkadang dibingungkan oleh beberapa hal seperti adu pendapat tentang bagaimana kita akan melatari sebuah scene lucu yang sebenarnya merupakan scene yang sedih jika dilihat dari prespektif pemain bukan dari prespektif penonton. Belum lagi konflik personal yang mengganggu kinerja profesional grup. Banyak yang menjadi kendala dibalik lahirnya musik latar pementasan ini. Jika dikatakan puas akan hasilnya, tentu tidak, hasil musik latar dari pementasan ini dapat dibilang jauh dari ekspektasi saya. Ada beberapa lubang kosong yang masih harus diisi, belum lagi kendala teknis saat pementasan lalu bagian intro dan outro yang masih perlu dilatih. Lalu apa yang saya dapat dari pementasan kali ini? Yang saya dapat adalah bahwa membuat musik latar untuk pementasan yang panjangnya 2 jam bukanlah hal yang mudah dibutuhkan kesamaan visi, komitmen dan disiplin dari grup yang membuat. Selain itu saya mendapatkan kelegaan, lega bahwa saya sudah mencoba.
Berikut salah satu musik latar yang paling saya ingat lalu saya kembangkan sedikit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar