Ada beberapa hal yang menurut saya buruk di skena musik kampus saya. Pertama, seseorang yang awam musik dapat dengan mudah mengkategorikan pendengar musik di kampus menjadi beberapa kategori. Dari mulai pendengar classic rock, pendengar musik sikadelik jadul, pendengar musik pop jazz santai dan pendengar musik hip "hari ini" (koreksi saya sebebasnya di bagian mana saja). Dengan tidak beragamnya jenis pendengar dapat diasumsikan sangat sedikit juga ragam yang dapat diterima skena tersebut. Kedua, acara musik yang sebagian besar masih mengedepankan kuantitas band daripada kualitas dan konsep "Guest Star" yang dilebih-lebihkan. Hal terakhir yang mengganggu saya adalah kegemaran para penggiat musik untuk membawakan lagu orang. Satu prinsip yang harusnya, menurut saya pribadi, dipegang oleh setiap musisi di dunia yaitu, sejelek-jeleknya lagu sendiri ia lebih baik dibandingkan lagu orang yang dimainkan dengan konsep yang sama. Untuk memainkan lagu orang saat live menurut saya merupakan hal yang sangat berat, karena jika kita memainkannya lebih buruk dari orang yang menciptakannya maka kita akan terlihat sangat-sangat buruk. Coba bayangkan jika The SIGIT masih memainkan AC/DC atau musik hard rock lainnya atau Nidji yang terus-terusan memainkan Coldplay atau musik british lainnya, tentu mereka tidak akan sebaik sekarang bukan? Tetapi, sekali lagi, diantara puluhan corak warna musik yang terlihat sama dan membosankan saya menemukan satu yang menjadi anomali diantara yang lain. Mereka menyebut diri mereka Bungabel.
Sabtu, 17 November 2012
Bungabel
Ada beberapa hal yang menurut saya buruk di skena musik kampus saya. Pertama, seseorang yang awam musik dapat dengan mudah mengkategorikan pendengar musik di kampus menjadi beberapa kategori. Dari mulai pendengar classic rock, pendengar musik sikadelik jadul, pendengar musik pop jazz santai dan pendengar musik hip "hari ini" (koreksi saya sebebasnya di bagian mana saja). Dengan tidak beragamnya jenis pendengar dapat diasumsikan sangat sedikit juga ragam yang dapat diterima skena tersebut. Kedua, acara musik yang sebagian besar masih mengedepankan kuantitas band daripada kualitas dan konsep "Guest Star" yang dilebih-lebihkan. Hal terakhir yang mengganggu saya adalah kegemaran para penggiat musik untuk membawakan lagu orang. Satu prinsip yang harusnya, menurut saya pribadi, dipegang oleh setiap musisi di dunia yaitu, sejelek-jeleknya lagu sendiri ia lebih baik dibandingkan lagu orang yang dimainkan dengan konsep yang sama. Untuk memainkan lagu orang saat live menurut saya merupakan hal yang sangat berat, karena jika kita memainkannya lebih buruk dari orang yang menciptakannya maka kita akan terlihat sangat-sangat buruk. Coba bayangkan jika The SIGIT masih memainkan AC/DC atau musik hard rock lainnya atau Nidji yang terus-terusan memainkan Coldplay atau musik british lainnya, tentu mereka tidak akan sebaik sekarang bukan? Tetapi, sekali lagi, diantara puluhan corak warna musik yang terlihat sama dan membosankan saya menemukan satu yang menjadi anomali diantara yang lain. Mereka menyebut diri mereka Bungabel.
Rabu, 11 Juli 2012
World Music?
Menurut saya musik tradisional itu tidak “nikmat” di kuping. Akui sajalah kalau kita adalah generasi yang diasuh, dididik, dan dimanjakan oleh layar tabung yang menampilkan gambar bergerak yang kita sebut televisi serta pipa informasi paling rumit yang kita sebut internet. Kita lebih familiar dengan Kotaro Minami dibanding Gatot Kaca atau Dora The Explorer dibanding Si Poncil. Pengaruh besar dari teknologi tersebutlah yang membentuk selera dari generasi kita sekarang. Membentuk mana yang “asik” dan mana yang tidak. Tetapi ada suatu fenomena yang terjadi didalam musik yang menurut saya cukup menarik untuk disimak.
World Music adalah sebutan untuk sebuah genre musik. World Music, menurut BBC, pertama kali lahir sebagai sebuah genre untuk mengkategorikan musik yang berada diluar pengaruh dari musik barat dan sering di katikan dengan musik etnis dan musik lokal dari suatu daerah [1]. Mengapa saya merasa tertarik dengan fenomena tersebut? World Music selain sebagai genre ia juga merupakan sebuah fenomena dimana musik lokal dan musik etnik dari suatu daerah dilihat mempunyai nilai jual yang cukup besar oleh beberapa label diluar sana sejak tahun 80-an. Mengapa saya mengaitkannya dengan nilai jual? Sebab menurut Stuart Ian Burns(seorang penulis artikel untuk BBC), World Music adalah sebuah nama genre yang diperuntukan untuk tujuan marketing atau “jualan”, dimana ia berusaha mengkategorikan musik yang berada diluar tatanan musik barat [2]. Dengan adanya kategori tersebut, para penikmat CD akan lebih mudah mencari dan mengkategorikannya sehingga lebih mudah untuk dijual sebagai sebuah produk. Bayangkan saja jika Sarden kita sebut dengan ikan yang sudah dimasak tapi diawetkan didalam kaleng yang bisa kita hangatkan kembali, tentu penjualan Sarden tidak akan sebesar sekarang bukan?
Dari fenomena tersebut saya merasa menemukan sesuatu yang lucu dan ironis. Bayangkan, sekelompok pemilik label barat bahkan sudah memperkirakan bahwa musik etnis dan lokal dari suatu daerah berpotensi memiliki nilai jual yang tinggi, sehingga mereka dengan cepat memberikan istilah untuk musik tersebut agar dikemudian hari mudah dikategorikan, dikemas, dan dijual. Kesadaran akan hal ini sebenarnya bukan sesuatu yang mengejutkan, sebab didalam validasi ilmu seni terdapat yang disebut Change and Continuity dimana seni akan terus menerus mengalami perubahan dan keberlanjutan, dengan dituntutnya keberlanjutan maka ia juga akan menuntut autentisitas dan originalitas seni tersebut. Lalu didunia yang penuh dengan kegiatan mempengaruhi dan dipengaruhi ini, musik apakah yang paling mendekati autentik dan original? Silakan tebak sendiri.
---------------------------------------------------------------------------------------------------
- http://www.bbc.co.uk/radio3/worldmusic/a4wm2008/faq.shtml
- http://www.bbc.co.uk/dna/collective/A2526815
Rabu, 13 Juni 2012
Puisi Amat Pendek
Saya senang
Tapi apa itu sebenarnya senang kalau semua realita ini ciptaan?
Lalu saya mati
Senin, 28 Mei 2012
Real Estate - Days
Jadi ada sekelompok muda di sebuah kota. Kota yang kecil, bercurah hujan rendah dan bersuhu lembab. Kelompok muda ini menghabiskan kebanyakan waktu mereka di pinggiran kota yang menghadap ke pedesaan dengan hanya sekedar saling berbincang satu sama lain.
Kebanyakan dari mereka berumur 20 sampai 25 tahun dan tidak mempunyai pekerjaan. Kecilnya kota mereka juga membuat mereka memutuskan untuk tidak mencari pujaan hati. Keinginan untuk keluar dari kota tersebut pun menjadi cita-cita utama mereka.
Mereka bosan dengan menikmati pemandangan yang sama, lampu jalan yang terus menyala kuning dan sepinya jalan utama. Tetapi tanpa mereka sadari dan tanpa tercapainya cita-cita mereka, mereka bahagia. Bahagia dengan pemandangan yang statis indahnya, lampu jalan yang terus menyala menghangatkan dan luasnya jalan utama.
Suatu hari terjadi sebuah fenomena alam. Matahari berhenti terbit dari timur dan mulai terbit dari barat. Waktu mulai berhenti yang menyebabkan mereka mengulang keadaan tanpa mereka sadari.Tetapi kota tersebut tetap dengan pemandangannya, lampu jalannya dan jalan utamanya. Dan tanpa mereka sadari keinginan mereka untuk keluar dari kota tersebut hanya menjadi keinginan belaka,ia menjadi tanpa pencapaian. Mereka tak menyadari kebosanan yang seharusnya mereka rasakan. Bosan menjadi sesuatu yang mulia karena terhentinya waktu. Bosan berubah menjadi kebahagian statis yang maksimal. Tetapi bentuk cita-cita mereka tetap sempurna karena tanpa percobaan pencapaian. Ia tak bernoda, sama sekali, tetapi hangatnya tetap terasa memeluk mereka.
Hangat pelukan yang seperti itulah yang saya rasakan saat mendengar album Real Estate yang bertajuk Days. Sebuah album yang chord dan aransemennya, menurut saya, merepresentasikan kebosanan dengan sangat baik sehingga makna bosan itu sendiri dapat saya interpretasi dengan begitu berbeda dengan “bosan” yang berada di tempat lain. Makna bosan dapat menjadi sesuatu yang begitu indah. Bosan dapat, sekali lagi, menjadi kebahagian statis yang maksimal.
Lagu yang disarankan : "Municipality" , "All The Same", "Green Aisle"
Kamis, 19 April 2012
Circa Survive - Juturna

Pop punk, metal, ska dan emo adalah empat genre musik yang amat digandrungi di sekolah saya semasa SMA. Tidak heran kalau hampir setengah dari band-band SMA saya memainkan musik bertipe seperti itu (kecuali beberapa orang dengan keadaan finansial yang lebih baik yang mampu beli efek chorus, les di purwacaraka atau pandawa, beli bass bersenar lima sama kemeja buat main Jazz), karena memang di era saya SMA, band-band yang memainkan musik semacam itu adalah band-band besar yang juga menghiasi pamplet-pamplet acara besar di dinding-dinding jalanan. Sebutlah Topi Jerami dan My First Wet Dream juga Last Pain dan The Glans, mereka dapat dibilang punggawa-punggawa dari aliran-aliran keras tersebut. Emo pun merupakan bagian dari pergerakan musik "underground" ini. Seperti The Glans yang diakui sebagai salah satu dedengkot emo kota Bogor, lalu ada juga Losing Friend yang meneruskan jejaknya. Tetapi diantara beberapa aliran "keras" ini hanyalah Emo yang hingga sekarang meninggalkan begitu banyak pertanyaan bagi saya. Tapi kali ini saya tidak akan memulai pertarungan besar rebut-rebutan "akar" dari EMO itu sendiri. Disini saya hanya akan menyorot yang menurut saya salah satu album EMO terbaik sepanjang masa (jika memang aliran yang diusung band ini adalah EMO dan jika bukan saya tidak peduli), yaitu Juturna.
Anthony Green harus diakui sebagai salah satu Icon dari aliran yang kita bicarakan ini. Kemunculan nya di Saosin sebelum Saosin memenuhi tabung televisi kita merupakan salah satu bukti bahwa ia terlibat dalam pembentukan band tersebut. Karena hal itu pula Anthony Green sering diasosiasikan hanya sebagai mantan vokalis dari Saosin walau sebenarnya sebelum itu ia memiliki karya yang luar biasa dengan bandnya yang lama yaitu Circa Survive. Menurut saya Circa Survive dapat merangkum 3 hal yang luar biasa yaitu instrumen yang dimainkan begitu lepas, kerumitan dalam bermainnya serta pembawaan vokal yang khas. Mengapa menurut saya mereka begitu "lepas"? Karena perasaan yang saya rasakan saat mendengarkan Juturna adalah perasaan saat seolah saya mengombang-ambingkan diri diantara moshpit dan sesekali terkena pukulan dari arah yang tidak diketahui, masokis tanpa usaha yang banyak. Kerumitan yang ada di tiap aransemen lagu Juturna pun tak perlu ditanyakan lagi. Merka mempunyai lagu dengan part-part yang mengaggetkan serta hitungan yang ganjil seperti pada lagu "The Glorious Nosebleed." Dibungkus dengan pembawaan Anthony Green pada saat bernyanyi, Juturna merupakan bingkisan yang khas dan berperan sebagai totem penanda era EMO di pikiran saya.
Lagu Yang Disarankan : The Glorious Nosebleed, Stop The Fuckin Car dan Act Appeled
Kamis, 12 April 2012
Real Estate - Self Titled Album

Lagu yang disarankan : "Suburban Dogs" dan "Suburban Beverages"
Jumat, 06 April 2012
Robin Pekcnold - A Seperate Bed / Olivia
I chose the fickle crowd
and the woman I wagered
won't look at me right now
not now"
in separate beds
a wall between us
and this is how it dies
separate our lives
and hope it heals us
I chose the love of strangers
I chose the fickle crowd
and the woman I wagered
won't look at me right now
(not now)
I know I've been like a house cat
give me this, give me that
and I know I'll be okay
but beg for my attention
a word from my affection
I just stare and walk away
how can I show you
I'd do all I could do
to show you I adore you?
Olivia
and the days go by
in a supplicated style
hand me the anodynes
oh, Olivia
I still love you
and I know I will
'til I die
and this feels like
common madness
why this wasted life?
come to me
the photographer is lucky
does he even know my name?
does he know I'd give it all up
if I only could be here?
but I used all my chances
(and a few after that)
now I'm floating in the ashes
Olivia
and the days go by
in a supplicated style
hand me the anodynes
oh, Olivia
I still love you
and I know I will
'til I die
and this feels like
common madness
why this wasted life?
come to me
Tristan

Minggu, 11 Maret 2012
Tulisan Amatir 1
Hancurnya Jembatan Menuju Mengingat
Oleh : Afiandi D Lacborra
Pemicu saya dalam membuat tulisan ini adalah sesi Tanya jawab yang saya lakukan dengan Ibu Anon pada saat kuliah Metadata B. Pada saat itu Ibu anon membahasa seputar perlakuan arsiparis terhadap wakil ringkas dokumen untuk karya seni. Pertanyaan pun mencuap di benak saya . Pertanyaan saya adalah “Adakah system metadata di dalam badan distributor seni seperti Record Label? Jika ada bentuknya akan seperti apa?” Jawaban yang saya dapatkan sungguh menyedihkan. Ibu Anon mengatakan bahwa di Indonesia tidak ada hal semacam itu, tidak ada standar untuk mengklasifikasikan atau membuat wakil ringkas dokumen untuk karya seni di instansi swasta. Tetapi ia mengatakan bahwa di negara lain telah terdapat standar semacam itu. Hal ini membuat saya prihatin terhadap kurangnya kesadaran khalayak seni Indonesia atas fungsi mengarsipkan. Ada pertanyaan lain yang ada di benak saya seputar posisi ilmu kearsipan terkait dengan bidang seni seperti “Adakah badan kearsipan di Indonesia yang memfokuskan diri pada pengarsipan kesenian di Indonesia baik yang kontemporer maupun tradisional?” Tetapi pertanyaan tersebut bersisa tak terjawab karena pertanyaan tidak saya tanyakan karena tidak sesuai dengan konteks mata kuliah. Sementara pertanyaan lain tak terjawab, saya mencoba menjawab satu pertanyaan yang menurut saya menjadi dasar dari dua pertanyaan diatas “Pentingkah mengarsipkan karya seni sebagai kegiatan melawan lupa seni dan budaya leluhur?”
“Pentingkah mengarsipkan karya seni sebagai kegiatan melawan lupa seni dan budaya leluhur?” Mari kita kaji pertanyaan ini. Berbagai riset dan seminar internasional yang diadakan di ITB mengungkapkan bahwa universitas, museum dan perpustakaan di Indonesia masih sangat lemah dalam mengarsipkan karya seni dan budaya. Hal tersebut mengacu pada tulisan Dimas Fuad bertajuk “Jembatan Bagi Sebuah Ingatan” [1} yang dimuat di website resmi Dewan Kesenian Jakarta. Dimas Fuad juga mengatakan bahwa pengarsipan seni sangat penting dikarenakan hal tersebut dapat menjadi jembatan generasi-generasi baru menuju seni dan budaya leluhurnya. Jika kita kehilangan jembatan ini maka generasi baru akan berjalan sendiri dengan metabolisme kreatifnya tanpa mengakar pada seni dan budaya leluhurnya dan saya yakin kita semua tahu akhirnya bahwa kelupaan generasi baru atas seni dan budaya leluhurnya akan berakibat kepada lunturnya jadi diri bangsa. Kebudayaan bangsa merupakan tanggung jawab bersama, hal ini pula merupakan tanggung jawab pemerintah. Apakah penyelenggara negara sudah melakukan tugasnya dalam mengarsipkan karya seni dalam negeri? Pertanyaan tersebut tersebut mengingatkan saya pada salah satu lembaga bernama Sinematek Indonesia.
Sinematek Indonesia[2] adalah salah satu lembaga non-profit yang disponsori oleh pemerintah yang bertugas sebagai pusat deposit film hasil karya dalam negeri. Bedanya dengan Arsip Film Jakarta adalah kontrol mutu film Arsip Film lebih ketat dibandingkan Sinematik Indonesia. Sinematik Indonesia mengumpulkan berbagai film tanpa pengecualian asal film tersebut hasil karya dalam negeri. Sinematik Indonesia pula berbagi tugas dengan Arsip Nasional dan Perpustakaan Nasional yang notabennya mempunyai tugas yang sama. Apakah diantara ketiga lembaga ini terjadi tumpang tindih tanggung jawab? Atau malah tanggung jawab mereka tidak dijalankan dengan baik? Pertanyaan tersebut tidak terlontar tanpa sebab. Sinematek Indonesia ditemukan dalam keadaan mengenaskan oleh Kineforum (wadah pemutaran film di Jakarta yang tidak bertujuan mencari keuntungan finansial dan dikelola oleh Dewan Kesenian Jakarta[2]) pada saat Kineforum mengadakan kerja sama guna menyelenggarakan perayaan Bulan Film Nasional. Hal ini tertulis pada sebuah artikel yang terdapat di situs resmi Dewan Kesenian Jakarta[3]. Di dalam artikel itu disebutkan juga bahwa Sinematek Indonesia memiliki pengelolaan arsip yang buruk dan sedang dalam keadaan finansial yang semakin kacau. Hal tersebut memicu berbagai pertanyaaan. Apakah Sinematek Indonesia sudah diberhentikan pendanaannya oleh pemerintah? Apakah pemerintah memiliki alternatif lain pengganti Sinematek Indonesia? Ataukah tanggung jawab Sinematek Indonesia akan di emban oleh Arsip Film, Arsip Nasional dan Perpustakaan Nasional? Mampukah ketiga lembaga tersebut mengemban tanggung jawab baru?
Kembali pertanyaan-pertanyaan saya diam di tempat ia dibuat, bukan karena pertanyaan tersebut berada diluar konteks, tetapi karena pertanyaan tersebut mengendap menjamur dibalik peliknya birokrasi dan buramnya kinerja penyelenggara negara. Hancurnya secara perlahan Sinematek Indonesia merupakan bukti nyata bahwa kepedulian pemerintah terhadap kearsipan budaya sangat kecil, yang pula merefleksikan prioritas seni dalam agenda mereka. Pentingnya mengarsipkan seni yang sudah saya ungkapkan tadi mungkin tidaklah cukup untuk membuat mereka merogoh sedikit uang demi kemajuan bangsa yang mereka bina. Harapan penulis hanyalah para generasi muda agar berusaha melawan penyakit “lupa” yang secara tidak langsung diciptakan oleh bobroknya sistem dan nihilnya kepedulian.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Daftar Pustaka
1. http://www.dkj.or.id/articles/seni-rupa/jembatan-bagi-sebuah-ingatan
2. http://www.sinematekindonesia.com/index.php/profile/sinematek
3. http://www.dkj.or.id/news/film/kineforum-sejarah-adalah-sekarang-5-bulan-film-nasional-2011
Sabtu, 10 Maret 2012
Cerita Pendek Amatir 2
Dengan surat ini aku ingin menyampaikan salam hangat ku pada peradaban baru, jika memang ada. Dan dengan sangat berat hati aku ingin mengatakan bahwa peradaban yang kami bina tengah berada di ujung tanduk saat ini. Banyak hal yang telah kami lakukan guna mencegah kejadian ini terjadi. Dan karena hal tersebut, untuk pertama kalinya, kami bekerja sama dengan musuh bebuyutan kami. Banyak hal yang telah kami capai dengan mencampurkan dua warna major yang sepanjang sejarah manusia telah menuai banyak korban. Hasilnya tak diduga-duga, banyak hal yang telah kami capai, hal-hal yang tak dapat kami bayangkan sebelumnya, tetapi tuhan ( zat superior yang kami percaya telah menciptakan semesta ini) berbicara lain.
Petuah lama sering berpendapat bahwa tuhan berbicara dan bertindak di dalam semak-semak misteri. Aksinya sungguh mengejutkan dan dilain sisi tak terlihat. Bahkan untuk aku yang seorang presiden dari sebuah negeri adidaya yang dapat dengan mudah melihat hampir apapun yang ada di bumi ini. Hal sekecil semut yang berkalan di antartika pun dapat ku ketahui beratnya. Tetapi bodohnya aku melewatkan sebuah konstruksi besar akhir zaman ini.
Diantara rasa penyesalan dan merasa bodoh ini, akan aku beritahu beberapa rahasia kunci ku. Aku sebenarnya tak kalah bodoh dengan jutaan lebih rakyat yang aku pimpin. Aku tak kalah ceroboh dengan mereka. Aku tak kalah egois dengan sebagian besar manusia. Aku tak kalah keji dengan sebagian orang yang kalian sebut teroris, maaf, yang kami sebut teroris. Aku hanyalah skrup, penguat undang-undang konstitusi negaraku yang bobrok. Aku hanyalah obeng, peralatan kotor para ekonom dunia. Aku hanyalah jalan tol, penyalur uang bagi para konglomerat pemegang saham atas dunia. Aku adalah iblis, tetapi aku juga korban atas kebutuhan rakyatku akan kepemimpinan. Aku adalah binatang buas yang kaumku ciptakan sendiri. Yang para leluruh inginkan, yang para pemuda teriakan dan yang para elit rekomendasikan. Aku adalah hasil proses ilusi yang kaumku ciptakan dan berinama demokrasi.
Belajarlah dari peradaban kami. Carilah batu-batu sisa-sisa peradaban kami. Telitilah kuratannya, hasil pahatan zaman yang gelap dan keras tertulis diantaranya. Anggaplah kami peradaban yang hilang, karena jika memang kami ada, kami adalah hasil karya Tuhan yang paling hina. Lalu jika kalian memang akan ada, berhentilah menyebut dan menganggap diri kalian "manusia", jadilah binatang, yang memakan sesama tapi tunduk pada alam. Pada semesta.
Salam hangat dari masa lalu
-------------------------------------------------------------------------------------------------
(dari kedalaman televisi yang dipenuhi semut hitam putih terdengar suara samar-samar)
Saya Presiden Amerika Serikat.
Dengan ini menyatakan bahwa dunia sedang berada di Status Quo.
Semua orang untuk dirinya masing-masing
Negara tidak lagi menanggung keamanan, keselamatan dan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Tuhan memberkati
(suara perlahan hilang menjauh kedalam)
-------------------------------------------------------------------------------------------------
cerita lanjutannya
Senin, 23 Januari 2012
Cerita Pendek Amatir 1
alangkah indah mu
merah kuning hijau
dilangit yang biru
pelukis mu agung
siapa gerangan
pelangi pelangi ciptaan ...."
Ledakan besar itu seolah-olah membalap kata terakhir dari lagu yang kami nyanyikan, aku dan kedua anakku. Kami yang duduk bersila di padang rumput tepat di kala bumi memakan setengah matahari, tak pernah menyangka hal seperti ini terjadi.
Aku tidak mempedulikan berita yang di tayangkan selama 24 jam nonstop tersebut. Menurutku TV itu pembohong dan pendusta besar. TV hanyalah alat kontrol fikiran, perkakas para petinggi dunia. Dengan rasa sebal dan kesal aku mematikan TV tersebut lalu bergegas menarik kedua anakku menuju padang rumput di belakang vila penginapan kami. Dari sini terlihat jalanan begitu sepi, nampaknya orang-orang sudah berlarian berhamburan menuju tempat paling aman menurut mereka. Menurutku? diantara kedua anakku di padang ini.
Padang rumput ini lah tempat favorit ku sejak kecil. Ayahku selalu membawaku kesini setiap liburan dan sekarang giliranku untuk membawa anak-anak ku kesini.Mungkin mereka belum mengerti dan mungkin tak punya waktu untuk mengerti betapa akan menjadi sentimentilnya tempat ini dikala mereka besar nanti. Dikala mereka sudah mempunyai anak dan aku mungkin sudah tua atau bahkan sudah mati. Lalu mereka membawa anak anak mereka kemari dan anak-anak mereka pun akan mempunyai emosi yang sama seperti kakeknya dan kakek buyutnya terhadap tempat ini. Siklus seperti ini, aku perkirakan akan terus berlangsung sampai akhir dunia nanti, atau kata nanti sungguh terlalu lama menurut-Nya.
Sirene polisi mulai memecah diam kami. Aku menutupi kedua telinga anakku berusaha mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan mereka. Lalu perlahan aku berbisik diantara isak tangis yang entah datang darimana, "Ayah minta maaf kalau ayah suka lupa yah. Lupa pulang, lupa sama ibu, lupa sama kalian." Diam adalah jawaban yang ku dapat, tetapi diantara muka bingung mereka aku menemukan yang orang sebut cinta. Kedua kumpulan darah,kulit dan tulang ini lah alasanku hidup, alasanku menempa senja di hari libur, alasanku menggarap ladang uang para korporat, alasanku menjadi budak di setengah masa hidupku. Alasan hiduplah yang menjadi renungan ku di akhir hayat ku ini. Mereka pun seharusnya sepertiku. Mereka para manusia.
Tak kusangka akhir jaman sungguh agung. Kau harus lihat bagaimana kaki langit senja terbelah oleh cahaya putih besar yang merambat yang datang entah darimana. Kau harus rasakan gumpalan emosimu yang mengendap diantara rongga-rongga paru-parumu meluap keluar seakan-akan kau sedang muntah. Kau harus rasakan bagaimana rasanya dipanggil diantara dua makhluk yang teramat kau cintai. Kau harus alami isak tangis penyesalan yang segera berubah menjadi keikhlasan murni yang tak tercampur kepentingan apapun. Kau harus ketahui bagaimana Tuhan menjelaskan kepada ku tentang arti.
alangkah indah mu
merah kuning hijau
dilangit yang biru
pelukis mu agung
siapa gerangan
pelangi pelangi ciptaan
TUHAN"

