Senin, 23 Januari 2012

Cerita Pendek Amatir 1

"pelangi pelangi
alangkah indah mu
merah kuning hijau
dilangit yang biru
pelukis mu agung
siapa gerangan
pelangi pelangi ciptaan ...."

Ledakan besar itu seolah-olah membalap kata terakhir dari lagu yang kami nyanyikan, aku dan kedua anakku. Kami yang duduk bersila di padang rumput tepat di kala bumi memakan setengah matahari, tak pernah menyangka hal seperti ini terjadi.

Aku tidak mempedulikan berita yang di tayangkan selama 24 jam nonstop tersebut. Menurutku TV itu pembohong dan pendusta besar. TV hanyalah alat kontrol fikiran, perkakas para petinggi dunia. Dengan rasa sebal dan kesal aku mematikan TV tersebut lalu bergegas menarik kedua anakku menuju padang rumput di belakang vila penginapan kami. Dari sini terlihat jalanan begitu sepi, nampaknya orang-orang sudah berlarian berhamburan menuju tempat paling aman menurut mereka. Menurutku? diantara kedua anakku di padang ini.

Padang rumput ini lah tempat favorit ku sejak kecil. Ayahku selalu membawaku kesini setiap liburan dan sekarang giliranku untuk membawa anak-anak ku kesini.Mungkin mereka belum mengerti dan mungkin tak punya waktu untuk mengerti betapa akan menjadi sentimentilnya tempat ini dikala mereka besar nanti. Dikala mereka sudah mempunyai anak dan aku mungkin sudah tua atau bahkan sudah mati. Lalu mereka membawa anak anak mereka kemari dan anak-anak mereka pun akan mempunyai emosi yang sama seperti kakeknya dan kakek buyutnya terhadap tempat ini. Siklus seperti ini, aku perkirakan akan terus berlangsung sampai akhir dunia nanti, atau kata nanti sungguh terlalu lama menurut-Nya.

Sirene polisi mulai memecah diam kami. Aku menutupi kedua telinga anakku berusaha mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan mereka. Lalu perlahan aku berbisik diantara isak tangis yang entah datang darimana, "Ayah minta maaf kalau ayah suka lupa yah. Lupa pulang, lupa sama ibu, lupa sama kalian." Diam adalah jawaban yang ku dapat, tetapi diantara muka bingung mereka aku menemukan yang orang sebut cinta. Kedua kumpulan darah,kulit dan tulang ini lah alasanku hidup, alasanku menempa senja di hari libur, alasanku menggarap ladang uang para korporat, alasanku menjadi budak di setengah masa hidupku. Alasan hiduplah yang menjadi renungan ku di akhir hayat ku ini. Mereka pun seharusnya sepertiku. Mereka para manusia.

Tak kusangka akhir jaman sungguh agung. Kau harus lihat bagaimana kaki langit senja terbelah oleh cahaya putih besar yang merambat yang datang entah darimana. Kau harus rasakan gumpalan emosimu yang mengendap diantara rongga-rongga paru-parumu meluap keluar seakan-akan kau sedang muntah. Kau harus rasakan bagaimana rasanya dipanggil diantara dua makhluk yang teramat kau cintai. Kau harus alami isak tangis penyesalan yang segera berubah menjadi keikhlasan murni yang tak tercampur kepentingan apapun. Kau harus ketahui bagaimana Tuhan menjelaskan kepada ku tentang arti.

"pelangi pelangi
alangkah indah mu
merah kuning hijau
dilangit yang biru
pelukis mu agung
siapa gerangan
pelangi pelangi ciptaan
TUHAN"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar