Ruangan ini dipenuhi rak buku yang menyender pada dinding-dinding putih yang kokoh. Ada tiga pintu dengan gagang yang berbeda-beda di sisi-sisi dinding. Ada yang bergagang kayu, besi lalu ada yang model gagangnya sungguh canggih sehingga yang dapat menyentuhnya hanyalah karyawanku yang mempunyai kartu terusannya. Ditengah ruangan ini terdapat sofa yang diatur sedemikian rupa sehingga tamu-tamu pentingku nyaman berlama-lama. Lalu mejaku berada di paling belakang, membelakangi jendela. Pengaturan mejaku mirip sekali dengan pengaturan meja-meja direktur perusahaan besar. Bedanya hanya, para direktur mendireksi perusahaan sementara aku mendireksi negara. Ya, aku adalah penghuni kelas pertama di gedung kenegaraan ini, direktur dari negeri yang biru dan besar ini.
Dengan surat ini aku ingin menyampaikan salam hangat ku pada peradaban baru, jika memang ada. Dan dengan sangat berat hati aku ingin mengatakan bahwa peradaban yang kami bina tengah berada di ujung tanduk saat ini. Banyak hal yang telah kami lakukan guna mencegah kejadian ini terjadi. Dan karena hal tersebut, untuk pertama kalinya, kami bekerja sama dengan musuh bebuyutan kami. Banyak hal yang telah kami capai dengan mencampurkan dua warna major yang sepanjang sejarah manusia telah menuai banyak korban. Hasilnya tak diduga-duga, banyak hal yang telah kami capai, hal-hal yang tak dapat kami bayangkan sebelumnya, tetapi tuhan ( zat superior yang kami percaya telah menciptakan semesta ini) berbicara lain.
Petuah lama sering berpendapat bahwa tuhan berbicara dan bertindak di dalam semak-semak misteri. Aksinya sungguh mengejutkan dan dilain sisi tak terlihat. Bahkan untuk aku yang seorang presiden dari sebuah negeri adidaya yang dapat dengan mudah melihat hampir apapun yang ada di bumi ini. Hal sekecil semut yang berkalan di antartika pun dapat ku ketahui beratnya. Tetapi bodohnya aku melewatkan sebuah konstruksi besar akhir zaman ini.
Diantara rasa penyesalan dan merasa bodoh ini, akan aku beritahu beberapa rahasia kunci ku. Aku sebenarnya tak kalah bodoh dengan jutaan lebih rakyat yang aku pimpin. Aku tak kalah ceroboh dengan mereka. Aku tak kalah egois dengan sebagian besar manusia. Aku tak kalah keji dengan sebagian orang yang kalian sebut teroris, maaf, yang kami sebut teroris. Aku hanyalah skrup, penguat undang-undang konstitusi negaraku yang bobrok. Aku hanyalah obeng, peralatan kotor para ekonom dunia. Aku hanyalah jalan tol, penyalur uang bagi para konglomerat pemegang saham atas dunia. Aku adalah iblis, tetapi aku juga korban atas kebutuhan rakyatku akan kepemimpinan. Aku adalah binatang buas yang kaumku ciptakan sendiri. Yang para leluruh inginkan, yang para pemuda teriakan dan yang para elit rekomendasikan. Aku adalah hasil proses ilusi yang kaumku ciptakan dan berinama demokrasi.
Belajarlah dari peradaban kami. Carilah batu-batu sisa-sisa peradaban kami. Telitilah kuratannya, hasil pahatan zaman yang gelap dan keras tertulis diantaranya. Anggaplah kami peradaban yang hilang, karena jika memang kami ada, kami adalah hasil karya Tuhan yang paling hina. Lalu jika kalian memang akan ada, berhentilah menyebut dan menganggap diri kalian "manusia", jadilah binatang, yang memakan sesama tapi tunduk pada alam. Pada semesta.
Salam hangat dari masa lalu
-------------------------------------------------------------------------------------------------
(dari kedalaman televisi yang dipenuhi semut hitam putih terdengar suara samar-samar)
Saya Presiden Amerika Serikat.
Dengan ini menyatakan bahwa dunia sedang berada di Status Quo.
Semua orang untuk dirinya masing-masing
Negara tidak lagi menanggung keamanan, keselamatan dan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Tuhan memberkati
(suara perlahan hilang menjauh kedalam)
-------------------------------------------------------------------------------------------------
cerita lanjutannya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar