Kamis, 19 April 2012

Circa Survive - Juturna




Pop punk, metal, ska dan emo adalah empat genre musik yang amat digandrungi di sekolah saya semasa SMA. Tidak heran kalau hampir setengah dari band-band SMA saya memainkan musik bertipe seperti itu (kecuali beberapa orang dengan keadaan finansial yang lebih baik yang mampu beli efek chorus, les di purwacaraka atau pandawa, beli bass bersenar lima sama kemeja buat main Jazz), karena memang di era saya SMA, band-band yang memainkan musik semacam itu adalah band-band besar yang juga menghiasi pamplet-pamplet acara besar di dinding-dinding jalanan. Sebutlah Topi Jerami dan My First Wet Dream juga Last Pain dan The Glans, mereka dapat dibilang punggawa-punggawa dari aliran-aliran keras tersebut. Emo pun merupakan bagian dari pergerakan musik "underground" ini. Seperti The Glans yang diakui sebagai salah satu dedengkot emo kota Bogor, lalu ada juga Losing Friend yang meneruskan jejaknya. Tetapi diantara beberapa aliran "keras" ini hanyalah Emo yang hingga sekarang meninggalkan begitu banyak pertanyaan bagi saya. Tapi kali ini saya tidak akan memulai pertarungan besar rebut-rebutan "akar" dari EMO itu sendiri. Disini saya hanya akan menyorot yang menurut saya salah satu album EMO terbaik sepanjang masa (jika memang aliran yang diusung band ini adalah EMO dan jika bukan saya tidak peduli), yaitu Juturna.

Anthony Green harus diakui sebagai salah satu Icon dari aliran yang kita bicarakan ini. Kemunculan nya di Saosin sebelum Saosin memenuhi tabung televisi kita merupakan salah satu bukti bahwa ia terlibat dalam pembentukan band tersebut. Karena hal itu pula Anthony Green sering diasosiasikan hanya sebagai mantan vokalis dari Saosin walau sebenarnya sebelum itu ia memiliki karya yang luar biasa dengan bandnya yang lama yaitu Circa Survive. Menurut saya Circa Survive dapat merangkum 3 hal yang luar biasa yaitu instrumen yang dimainkan begitu lepas, kerumitan dalam bermainnya serta pembawaan vokal yang khas. Mengapa menurut saya mereka begitu "lepas"? Karena perasaan yang saya rasakan saat mendengarkan Juturna adalah perasaan saat seolah saya mengombang-ambingkan diri diantara moshpit dan sesekali terkena pukulan dari arah yang tidak diketahui, masokis tanpa usaha yang banyak. Kerumitan yang ada di tiap aransemen lagu Juturna pun tak perlu ditanyakan lagi. Merka mempunyai lagu dengan part-part yang mengaggetkan serta hitungan yang ganjil seperti pada lagu "The Glorious Nosebleed." Dibungkus dengan pembawaan Anthony Green pada saat bernyanyi, Juturna merupakan bingkisan yang khas dan berperan sebagai totem penanda era EMO di pikiran saya.


Lagu Yang Disarankan :
The Glorious Nosebleed, Stop The Fuckin Car dan Act Appeled

Tidak ada komentar:

Posting Komentar