Minggu, 13 April 2014

Cerpen tugas Penpop



Langit Berwarna Merah Jambu

Kita adalah dua mata koin yang menempel namun tak pernah bertemu, yang terkikis hujan dikala badai menyerang, yang terbias cahaya matahari diantara pelangi dan yang dipaksakan untuk memaksa lupa. Kita adalah kau dan aku di gigir dunia meninggalkan gelap yang membeku. Lalu kapan kita pernah benar-benar bertemu? Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang akan aku angkat menjadi tema utamaku dalam skrip ini. Lalu dengan tokoh utama seorang pria aku akan mulai menjelajah dunia fantasiku sendiri. Beberapa halangan akan kusiapkan, juga beberapa senjata akan kupakaikan. Lalu bagaimana dengan konflik dan resolusi ceritaku? Mari kita sama-sama lihat
 Pertama kubuat latar tempat untuk memulai cerita ini. Aku selalu terkesan dengan bagaimana Itali berkembang pesat ditengah abad pertengahan. Anggaplah tokoh utama ku adalah seorang artisan bernama “Matahari”   yang hidup ditengah masa tersebut. Lalu kita beri bumbu-bumbu sedikit pada latar belakang tokoh ini. Anggaplah bahwa ia seorang yatim piatu yang diasuh oleh seorang patron yang menjadi langganan kerajaan dengan pertimbangan bahwa proses kurasi ptaron tersebut selalu sesuai dengan selera sang raja.  Matahari adalah seorang perupa yang juga seorang penyair dan musisi, karyanya selalu memukau patron tersebut yang berarti, secara tidak langsung, memukau raja. Tak hanya raja yang terpukau terhadap karyanya, permaisuri pun tak kalah terkesima. Nah, disinilah kita akan memasukan tokoh utama selanjutnya.
            Sebagaimana semua permaisuri di sebuah kerajaan, mereka dimiliki oleh seorang raja, yang walau sudah mempunyai seorang ratu, ia tetap dapat memiliki sejumlah wanita dibawah kungkungannya.  Tetapi diantara semua permaisuri, “Bulan” lah yang dianggap paling cantik parasnya dan itu juga sebabnya mengapa ia dipangggil Bulan. Semenjak kecil Bulan selalu dirawat dengan baik oleh ibunya yang seorang pedagang ikan dipasar, ibunya selalu memanjakan dirinya, hingga suatu hari raja sedang berjalan-jalan ke pasar dan melihat kecantikan Bulan. Segeralah setelah itu raja menyuntingnya sebagai salah satu permaisuri.
            Hari demi hari berganti kedua tokoh utamaku selalu memulai rutinitas hari-harinya dengan hal yang selalu sama.Bernyanyi dua buah lagu untuk Matahari berarti dua kali putaran tarian tradisional lokal untuk Bulan, makan pagi dengan ikan segar untuk Matahari berarti makan pagi dengan roti dan selai kacang untuk Bulan lalu mandi segar di sungai untuk Matahari berarti mandi dengan air susu segar untuk Bulan. Bagai sebuah mata koin, mereka saling menempel satu sama lain, tetapi tanpa pernah bertatap dan sepenuhnya berbeda. Namun dalam sebuah skrip tentu jika kedua tokoh utama tidak bertemu dalam sebuah wacana maka tidak seru bukan?
            Mari bangun sebuah kejadian dimana kedua tokoh utama tersebut bertemu. Bayangkan sebuah perayaan ulang tahun kerajaan. Pesta dimana-mana, kereta kuda yang berpacu lebih pagi untuk mempersiapkan pesta tersebut dan bertong-tong bir yang digelindingkan ke arah kastil kerajaan. Pada pagi hari Matahari dan BUlan memulai rutinitas seperti biasa, perbedaannya adalah Bulan mempersiapkan tariannya untuk dipentaskan dikastil sementara Matahari mempersiapkan lagunya untuk dipentaskan di balai kastil. Dengan gemulai Bulan mulai berlatih tepat bersamaan dengan Matahari yang mulai memetik gitarnya. Dalam ruang dan waktu yang berbeda, nada yang dinyanyikan Matahari seolah berpadu padan dengan jemari lentik yang digerakan Bulan, saling berkelindan diantara riuhnya persiapan pesta. Siang hari datang seraya semua orang bersiap untuk melihat parade yang telah disiapkan pihak kerajaan untuk rakyatnya. Dengan kereta kuda berhias emas, raja berdiri untuk lalu melambaikan tangan ke arah rakyatnya. Kereta kuda selanjutnya adalah kerta kuda milik ratu yang lalu disusul oleh kereta kuda milik para permaisuri. Pada saat itulah, untuk pertama kali, Matahari menyaksikan wajah berpupil serupa semesta milik Bulan. Paras Bulan menghentikan waktu pada kesadaran milik Matahari. Namun pada saat itulah, untuk pertama kalinya walau tanpa terpaut ruang dan waktu, mereka mengalami sesuatu yang sama sekali tidak terpaut. Bulan tidak merasakan apa-apa, ia menganggap Matahari sebagaimana rakyat biasa  lainnya karena diantara rakyat-rakyat jelata dan para pedagang pasar, Matahari tampak seperti mereka, tidak jauh berbeda. Tapi tenang! Hal tersebut akan segera berubah.
            Malam tiba dan perayaan di kastil mulai berjalan, di dalam kastil para bangsawan mulai meminum anggur yang telah disediakan oleh raja serta menikmati suguhan berbagai pentas seni yang tersedia di panggung kecil. Disana Bulan mulai menari, elok gerak gemulai jarinya menjelajah setiap mata lawan jenis di ruangan tersebut, membungkam semua mulut diruangan tersebut dan seketika menyebar sunyi ke seantero kastil. Sementara di luar kastil, tepatnya di balai kastil, rakyat mulai berjingkrak riang mengiringi lantunan musik yang dimainkan Matahari. Mereka kembali terpaut pada proses transendensi antara lantunan nada dan gemulai gerak. Namun Bulan selesai terlebih dahulu, sementara Matahari masih memetik gitarnya, semakin kencang namun semakin lirih. Diantara lilin-lilin yang diangkat ke langit oleh para penonton setia Matahari, Bulan akhirnya tergugah. Penampilan Matahari menarik perhatian Bulan, suara lirihnya yang mewakilkan kegetiran hidup di zaman yang tanpa kepastian menggugah emosi Bulan. Ia menangis, sebuah tangis yang datang entah darimana, di matanya bintang meledak, semesta tercipta.
            Seperti semua cerita klise, Bulan dan Matahari akhirnya jatuh cinta. Namun seperti semua penulis skrip yang klise, aku akan mencari sesuatu yang berbeda. Matahari yang begitu mengagumi kecantikan Bulan mulai memberanikan diri melemparkan bait demi bait puisi ke sela-sela jendela kamar Bulan. Bulan yang seorang permaisuri sangat mengenal dirinya dan mengerti fakta bahwa ia adalah seorang permaisuri. Dengan itu ia membiarkan bait demi bait puisi Matahari tak terjawab. Hari demi hari berganti, belum sedikitpun perasaan mereka berkurang namun juga belum sedetikpun mereka bertemu. Bulan tetap dengan pendiriannya dan Matahari bertahan dengan perasaannya. Hingga suatu hari Matahari sadar bahwa ia tidak akan pernah bertemu dengan Bulan, karena Bulan akan selalu berada di ujung yang berbeda, karena asing adalah nama tengah hubungan mereka. Lalu dengan berat hati ia melemparkan puisi terakhirnya yang bertajuk “Berbaringlah Diam-Diam.” Seperti cerpen karya Ray Badbury yang mengutip puisi Sarah Teasdale yang bertajuk “There Will Come Soft Rain.”  Aku akan melakukan hal yang sama untuk mengakhiri skrip ini, aku akan mengutip sebuah puisi karya Gema Mawardi yang berjudul “Berbaringlah Diam-Diam.”


Berbaringlah Diam-Diam
berbaring, berbaringlah diam-diam
bersama-sama kita akan tenggelam
hanyut di gelombang warna-warna
pendar-pendar kemilau pusaran cahaya

bulan akan mencium matari
tanah dan pohon selalu menari
di sini, di dunia kecil milik kau dan aku
langit akan selalu berwarna merah jambu

berbaring, berbaringlah diam-diam
kita akan terbang makin dalam
merasuk ke lubuk hening paling bising
dunia tanpa tangis tanpa dosa

bulan akan mencium matari
tanah dan pohon selalu menari
di sini, di dunia kecil milik kau dan aku
langit akan selalu berwarna merah jambu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar