Langit
Berwarna Merah Jambu
Kita adalah dua mata koin yang menempel namun tak
pernah bertemu, yang terkikis hujan dikala badai menyerang, yang terbias cahaya
matahari diantara pelangi dan yang dipaksakan untuk memaksa lupa. Kita adalah kau
dan aku di gigir dunia meninggalkan gelap yang membeku. Lalu kapan kita pernah
benar-benar bertemu? Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang akan aku angkat
menjadi tema utamaku dalam skrip ini. Lalu dengan tokoh utama seorang pria aku
akan mulai menjelajah dunia fantasiku sendiri. Beberapa halangan akan
kusiapkan, juga beberapa senjata akan kupakaikan. Lalu bagaimana dengan konflik
dan resolusi ceritaku? Mari kita sama-sama lihat
Pertama
kubuat latar tempat untuk memulai cerita ini. Aku selalu terkesan dengan
bagaimana Itali berkembang pesat ditengah abad pertengahan. Anggaplah tokoh
utama ku adalah seorang artisan bernama
“Matahari” yang hidup ditengah masa tersebut. Lalu kita
beri bumbu-bumbu sedikit pada latar belakang tokoh ini. Anggaplah bahwa ia
seorang yatim piatu yang diasuh oleh seorang patron yang menjadi langganan
kerajaan dengan pertimbangan bahwa proses kurasi ptaron tersebut selalu sesuai
dengan selera sang raja. Matahari adalah
seorang perupa yang juga seorang penyair dan musisi, karyanya selalu memukau
patron tersebut yang berarti, secara tidak langsung, memukau raja. Tak hanya
raja yang terpukau terhadap karyanya, permaisuri pun tak kalah terkesima. Nah,
disinilah kita akan memasukan tokoh utama selanjutnya.
Sebagaimana
semua permaisuri di sebuah kerajaan, mereka dimiliki oleh seorang raja, yang
walau sudah mempunyai seorang ratu, ia tetap dapat memiliki sejumlah wanita
dibawah kungkungannya. Tetapi diantara
semua permaisuri, “Bulan” lah yang dianggap paling cantik parasnya dan itu juga
sebabnya mengapa ia dipangggil Bulan. Semenjak kecil Bulan selalu dirawat
dengan baik oleh ibunya yang seorang pedagang ikan dipasar, ibunya selalu
memanjakan dirinya, hingga suatu hari raja sedang berjalan-jalan ke pasar dan
melihat kecantikan Bulan. Segeralah setelah itu raja menyuntingnya sebagai
salah satu permaisuri.
Hari
demi hari berganti kedua tokoh utamaku selalu memulai rutinitas hari-harinya
dengan hal yang selalu sama.Bernyanyi dua buah lagu untuk Matahari berarti dua
kali putaran tarian tradisional lokal untuk Bulan, makan pagi dengan ikan segar
untuk Matahari berarti makan pagi dengan roti dan selai kacang untuk Bulan lalu
mandi segar di sungai untuk Matahari berarti mandi dengan air susu segar untuk
Bulan. Bagai sebuah mata koin, mereka saling menempel satu sama lain, tetapi
tanpa pernah bertatap dan sepenuhnya berbeda. Namun dalam sebuah skrip tentu
jika kedua tokoh utama tidak bertemu dalam sebuah wacana maka tidak seru bukan?
Mari
bangun sebuah kejadian dimana kedua tokoh utama tersebut bertemu. Bayangkan
sebuah perayaan ulang tahun kerajaan. Pesta dimana-mana, kereta kuda yang
berpacu lebih pagi untuk mempersiapkan pesta tersebut dan bertong-tong bir yang
digelindingkan ke arah kastil kerajaan. Pada pagi hari Matahari dan BUlan
memulai rutinitas seperti biasa, perbedaannya adalah Bulan mempersiapkan
tariannya untuk dipentaskan dikastil sementara Matahari mempersiapkan lagunya
untuk dipentaskan di balai kastil. Dengan gemulai Bulan mulai berlatih tepat
bersamaan dengan Matahari yang mulai memetik gitarnya. Dalam ruang dan waktu
yang berbeda, nada yang dinyanyikan Matahari seolah berpadu padan dengan jemari
lentik yang digerakan Bulan, saling berkelindan diantara riuhnya persiapan
pesta. Siang hari datang seraya semua orang bersiap untuk melihat parade yang
telah disiapkan pihak kerajaan untuk rakyatnya. Dengan kereta kuda berhias
emas, raja berdiri untuk lalu melambaikan tangan ke arah rakyatnya. Kereta kuda
selanjutnya adalah kerta kuda milik ratu yang lalu disusul oleh kereta kuda
milik para permaisuri. Pada saat itulah, untuk pertama kali, Matahari
menyaksikan wajah berpupil serupa semesta milik Bulan. Paras Bulan menghentikan
waktu pada kesadaran milik Matahari. Namun pada saat itulah, untuk pertama
kalinya walau tanpa terpaut ruang dan waktu, mereka mengalami sesuatu yang sama
sekali tidak terpaut. Bulan tidak merasakan apa-apa, ia menganggap Matahari
sebagaimana rakyat biasa lainnya karena
diantara rakyat-rakyat jelata dan para pedagang pasar, Matahari tampak seperti
mereka, tidak jauh berbeda. Tapi tenang! Hal tersebut akan segera berubah.
Malam
tiba dan perayaan di kastil mulai berjalan, di dalam kastil para bangsawan
mulai meminum anggur yang telah disediakan oleh raja serta menikmati suguhan
berbagai pentas seni yang tersedia di panggung kecil. Disana Bulan mulai
menari, elok gerak gemulai jarinya menjelajah setiap mata lawan jenis di
ruangan tersebut, membungkam semua mulut diruangan tersebut dan seketika
menyebar sunyi ke seantero kastil. Sementara di luar kastil, tepatnya di balai
kastil, rakyat mulai berjingkrak riang mengiringi lantunan musik yang dimainkan
Matahari. Mereka kembali terpaut pada proses transendensi antara lantunan nada
dan gemulai gerak. Namun Bulan selesai terlebih dahulu, sementara Matahari
masih memetik gitarnya, semakin kencang namun semakin lirih. Diantara
lilin-lilin yang diangkat ke langit oleh para penonton setia Matahari, Bulan
akhirnya tergugah. Penampilan Matahari menarik perhatian Bulan, suara lirihnya
yang mewakilkan kegetiran hidup di zaman yang tanpa kepastian menggugah emosi
Bulan. Ia menangis, sebuah tangis yang datang entah darimana, di matanya
bintang meledak, semesta tercipta.
Seperti
semua cerita klise, Bulan dan Matahari akhirnya jatuh cinta. Namun seperti
semua penulis skrip yang klise, aku akan mencari sesuatu yang berbeda. Matahari
yang begitu mengagumi kecantikan Bulan mulai memberanikan diri melemparkan bait
demi bait puisi ke sela-sela jendela kamar Bulan. Bulan yang seorang permaisuri
sangat mengenal dirinya dan mengerti fakta bahwa ia adalah seorang permaisuri.
Dengan itu ia membiarkan bait demi bait puisi Matahari tak terjawab. Hari demi
hari berganti, belum sedikitpun perasaan mereka berkurang namun juga belum
sedetikpun mereka bertemu. Bulan tetap dengan pendiriannya dan Matahari bertahan
dengan perasaannya. Hingga suatu hari Matahari sadar bahwa ia tidak akan pernah
bertemu dengan Bulan, karena Bulan akan selalu berada di ujung yang berbeda,
karena asing adalah nama tengah hubungan mereka. Lalu dengan berat hati ia
melemparkan puisi terakhirnya yang bertajuk “Berbaringlah Diam-Diam.” Seperti
cerpen karya Ray Badbury yang mengutip puisi Sarah Teasdale yang bertajuk “There Will Come Soft Rain.” Aku akan melakukan hal yang sama untuk
mengakhiri skrip ini, aku akan mengutip sebuah puisi karya Gema Mawardi yang
berjudul “Berbaringlah Diam-Diam.”
Berbaringlah Diam-Diam
berbaring, berbaringlah diam-diam
bersama-sama kita akan tenggelam
hanyut di gelombang warna-warna
pendar-pendar kemilau pusaran cahaya
bulan akan mencium matari
tanah dan pohon selalu menari
di sini, di dunia kecil milik kau dan
aku
langit akan selalu berwarna merah
jambu
berbaring, berbaringlah diam-diam
kita akan terbang makin dalam
merasuk ke lubuk hening paling bising
dunia tanpa tangis tanpa dosa
bulan akan mencium matari
tanah dan pohon selalu menari
di sini, di dunia kecil milik kau dan
aku
langit akan selalu berwarna merah
jambu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar