Selasa, 25 Maret 2014

Rumah Kecil di Punggung Tangan

Mari analogikan semua ini sebuah film.
Dialog-dialog menohok di tiap ujung sekuen,
Dengan matahari terbenam sebagai latar,
Lalu petikan gitar yang menyusup diam-diam.
Dan kau bilang ini sesuatu yang tidak mungkin terjadi pada sepasang manusia
Tapi kita disini
Dan ini, sekarang terjadi.

Jalanan basah tersapu hujan yang bergantian datang.
Bayangan marka jalan menari lambat,
Seiring matahari dan bulan bertukar tempat.
Kau terus mengulang kata-kataku.
"Persetan dengan masyarakat!"
Kutata rapi kalimatmu.
Kubiarkan ia menggantungkan nasibnya pada "t" yang terucap tak utuh di mulutmu.
"Persean dengan masyaraka!"
Dan sekarang relakan aku untuk merapikan semua yang serba silang sengkarut ini.
Biarkanlah semesta membangun kembali diriku,
Yang terpanggang bersisa abu.

Suatu Minggu di rawannya matahari.
Suatu siang di padatnya awan di angkasa.
Sambil kunyanyikan lagu yang bercerita tentang burung yang tetiba datang serta bintang yang tetiba jatuh,
Kubiarkan kau  melengkungkan jendela, meluruskan dinding, menaruh atap dan mendirikan pintu.
Kubiarkan kau menarik garis demi garis tersebut di tanganku.
Lalu dengan pandangan berpupil serupa semesta,
Genap sudah sebuah rumah kecil di punggung tangan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar