Senin, 28 Juli 2014

Main Tanah

Apakah aku terlalu dekat sehingga mereka menenggelamkanku kedalam lautan tanya? Namun jika aku terlalu jauh bukankah aku akan menjadi terlalu asing bagi mereka? Lalu mengapa tumpukan tanah ini cepat sekali berkembang? Seharusnya kusudahi saja pada saat binatang-binatang besar itu mulai merepotkan. Kupikir semua akan baik-baik-baik saja, kupikir semua akan menyenangkan namun sekarang semua menjadi merepotkan. Kaum kanan tak henti-hentinya mengelu-elukan kemanusiaan dan kebebasan individu sementara kaum kiri kerepotan dengan mimpi-mimpi utopis mereka sendiri. Belum lagi para fanatik agama yang fundamental dan radikal, mereka begitu liar dan brutal. Bahkan ketika aku pertama kali menuliskan peraturan mainku di dunia ini, aku tidak pernah menyangka akan demikian jadinya.
    Awalnya semua kurancang dengan rapi namun perlahan semuanya mulai keluar rel. Awalnya kubangun mereka di sebuah tanah di tengah wadah sebab aku berpikir mereka dapat menjelajah dengan seimbang namun perkiraanku salah. Awalnya semua kubuat dengan kuncnya masing-masing di bagian tengah bawah tubuh mereka, namun semenjak sodom dan gomorah semua menjadi blur. Awalnya kuberikan mereka dingin agar berpakaian dan panas agar mereka berlindung, namun sekarang semua sudah tidak ada artinya lagi. Kadang aku terkejut dengan tiap teknologi dan kemajuan yang mereka buat, namun sekali lagi, hampir semuanya meleset dari perkiraanku.
    Namun sebagai seorang yang bertanggung jawab, aku tidak boleh menyerah ditengah permainan. Aku mulai memperbaiki keadaan dengan menurunkan beberapa tanah yang aku ciptakan dengan keunggulan-keunggulan tertentu. Salahs satunya aku pernah menciptakan seseorang yang mampu menimbang waktu dan masa sehingga ia dapat mengambil energi darinya. Memang mereka berhasil mengambil energi namun mereka juga memusnahkan banyak hal dengan pengetahuan tersebut. Lalu aku pernah menciptakan tanah dengan kemampuan memimpin yang luar biasa untuk memimpin kaumnya, namun ternyata ia menjadi pemusnah yang terus menjarah daerah tengah wadahku.  Semakin banyak aku menciptakan tanah dengan keunggulan, semakin banyak pula hal-hal yang tidak kuinginkan untuk terjadi malah terjadi. Mungkin memang sudah waktunya semua untuk usai.
    Kusiapkan beberapa alasan lalu beberapa botol cairan penghancur serta beberapa puing untuk menghiasi proses kehancuran tersebut. Namun disela persiapanku, aku menyadari sesuatu, bahwa sebenarnya kehancuran yang kuinginkan dapat terjadi tanpa perlu aku melakukan apapun. Tanah-tanah ini lupa bahwa mereka terbuat dari tanah dan itulah keuntunganku. Wadah yang juga kubuat dari tanah tentu akan perlahan muak terhadap terpaan tanah-tanah diatasnya. Sehingga aku hanya tinggal menunggu waktu untuk lalu.

“Dek ayo makan dulu dong jangan main mulu! Nanti makanannya dingin lho!”






Tidak ada komentar:

Posting Komentar