Minggu, 19 April 2015

Mazmur 23

Tuhan adalah Gembalaku
Takkan kekurangan aku
Ia membaringkan aku
Di padang yang berumput hijau


Ia membimbingku ke air yang tenang
Ia menyegarkan jiwaku
Ia menuntunku di jalan yang benar
Oleh kar'na namaNya
Sekalipun aku berjalan
Dalam lembah kekelaman

Aku tidak takut bahaya
Sebab Engkau besertaku
GadaMu dan tongkatMu
Itulah yang menghibur aku

Ia membimbingku ke air yang tenang
Ia menyegarkan jiwaku
Ia menuntunku di jalan yang benar

Oleh kar'na namaNya
Sekalipun aku berjalan
Dalam lembah kekelaman

Sebab aku akan diam dalam
Rumah Tuhan sepanjang masa

Senin, 28 Juli 2014

Main Tanah

Apakah aku terlalu dekat sehingga mereka menenggelamkanku kedalam lautan tanya? Namun jika aku terlalu jauh bukankah aku akan menjadi terlalu asing bagi mereka? Lalu mengapa tumpukan tanah ini cepat sekali berkembang? Seharusnya kusudahi saja pada saat binatang-binatang besar itu mulai merepotkan. Kupikir semua akan baik-baik-baik saja, kupikir semua akan menyenangkan namun sekarang semua menjadi merepotkan. Kaum kanan tak henti-hentinya mengelu-elukan kemanusiaan dan kebebasan individu sementara kaum kiri kerepotan dengan mimpi-mimpi utopis mereka sendiri. Belum lagi para fanatik agama yang fundamental dan radikal, mereka begitu liar dan brutal. Bahkan ketika aku pertama kali menuliskan peraturan mainku di dunia ini, aku tidak pernah menyangka akan demikian jadinya.
    Awalnya semua kurancang dengan rapi namun perlahan semuanya mulai keluar rel. Awalnya kubangun mereka di sebuah tanah di tengah wadah sebab aku berpikir mereka dapat menjelajah dengan seimbang namun perkiraanku salah. Awalnya semua kubuat dengan kuncnya masing-masing di bagian tengah bawah tubuh mereka, namun semenjak sodom dan gomorah semua menjadi blur. Awalnya kuberikan mereka dingin agar berpakaian dan panas agar mereka berlindung, namun sekarang semua sudah tidak ada artinya lagi. Kadang aku terkejut dengan tiap teknologi dan kemajuan yang mereka buat, namun sekali lagi, hampir semuanya meleset dari perkiraanku.
    Namun sebagai seorang yang bertanggung jawab, aku tidak boleh menyerah ditengah permainan. Aku mulai memperbaiki keadaan dengan menurunkan beberapa tanah yang aku ciptakan dengan keunggulan-keunggulan tertentu. Salahs satunya aku pernah menciptakan seseorang yang mampu menimbang waktu dan masa sehingga ia dapat mengambil energi darinya. Memang mereka berhasil mengambil energi namun mereka juga memusnahkan banyak hal dengan pengetahuan tersebut. Lalu aku pernah menciptakan tanah dengan kemampuan memimpin yang luar biasa untuk memimpin kaumnya, namun ternyata ia menjadi pemusnah yang terus menjarah daerah tengah wadahku.  Semakin banyak aku menciptakan tanah dengan keunggulan, semakin banyak pula hal-hal yang tidak kuinginkan untuk terjadi malah terjadi. Mungkin memang sudah waktunya semua untuk usai.
    Kusiapkan beberapa alasan lalu beberapa botol cairan penghancur serta beberapa puing untuk menghiasi proses kehancuran tersebut. Namun disela persiapanku, aku menyadari sesuatu, bahwa sebenarnya kehancuran yang kuinginkan dapat terjadi tanpa perlu aku melakukan apapun. Tanah-tanah ini lupa bahwa mereka terbuat dari tanah dan itulah keuntunganku. Wadah yang juga kubuat dari tanah tentu akan perlahan muak terhadap terpaan tanah-tanah diatasnya. Sehingga aku hanya tinggal menunggu waktu untuk lalu.

“Dek ayo makan dulu dong jangan main mulu! Nanti makanannya dingin lho!”






Minggu, 13 April 2014

Cerpen tugas Penpop



Langit Berwarna Merah Jambu

Kita adalah dua mata koin yang menempel namun tak pernah bertemu, yang terkikis hujan dikala badai menyerang, yang terbias cahaya matahari diantara pelangi dan yang dipaksakan untuk memaksa lupa. Kita adalah kau dan aku di gigir dunia meninggalkan gelap yang membeku. Lalu kapan kita pernah benar-benar bertemu? Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang akan aku angkat menjadi tema utamaku dalam skrip ini. Lalu dengan tokoh utama seorang pria aku akan mulai menjelajah dunia fantasiku sendiri. Beberapa halangan akan kusiapkan, juga beberapa senjata akan kupakaikan. Lalu bagaimana dengan konflik dan resolusi ceritaku? Mari kita sama-sama lihat
 Pertama kubuat latar tempat untuk memulai cerita ini. Aku selalu terkesan dengan bagaimana Itali berkembang pesat ditengah abad pertengahan. Anggaplah tokoh utama ku adalah seorang artisan bernama “Matahari”   yang hidup ditengah masa tersebut. Lalu kita beri bumbu-bumbu sedikit pada latar belakang tokoh ini. Anggaplah bahwa ia seorang yatim piatu yang diasuh oleh seorang patron yang menjadi langganan kerajaan dengan pertimbangan bahwa proses kurasi ptaron tersebut selalu sesuai dengan selera sang raja.  Matahari adalah seorang perupa yang juga seorang penyair dan musisi, karyanya selalu memukau patron tersebut yang berarti, secara tidak langsung, memukau raja. Tak hanya raja yang terpukau terhadap karyanya, permaisuri pun tak kalah terkesima. Nah, disinilah kita akan memasukan tokoh utama selanjutnya.
            Sebagaimana semua permaisuri di sebuah kerajaan, mereka dimiliki oleh seorang raja, yang walau sudah mempunyai seorang ratu, ia tetap dapat memiliki sejumlah wanita dibawah kungkungannya.  Tetapi diantara semua permaisuri, “Bulan” lah yang dianggap paling cantik parasnya dan itu juga sebabnya mengapa ia dipangggil Bulan. Semenjak kecil Bulan selalu dirawat dengan baik oleh ibunya yang seorang pedagang ikan dipasar, ibunya selalu memanjakan dirinya, hingga suatu hari raja sedang berjalan-jalan ke pasar dan melihat kecantikan Bulan. Segeralah setelah itu raja menyuntingnya sebagai salah satu permaisuri.
            Hari demi hari berganti kedua tokoh utamaku selalu memulai rutinitas hari-harinya dengan hal yang selalu sama.Bernyanyi dua buah lagu untuk Matahari berarti dua kali putaran tarian tradisional lokal untuk Bulan, makan pagi dengan ikan segar untuk Matahari berarti makan pagi dengan roti dan selai kacang untuk Bulan lalu mandi segar di sungai untuk Matahari berarti mandi dengan air susu segar untuk Bulan. Bagai sebuah mata koin, mereka saling menempel satu sama lain, tetapi tanpa pernah bertatap dan sepenuhnya berbeda. Namun dalam sebuah skrip tentu jika kedua tokoh utama tidak bertemu dalam sebuah wacana maka tidak seru bukan?
            Mari bangun sebuah kejadian dimana kedua tokoh utama tersebut bertemu. Bayangkan sebuah perayaan ulang tahun kerajaan. Pesta dimana-mana, kereta kuda yang berpacu lebih pagi untuk mempersiapkan pesta tersebut dan bertong-tong bir yang digelindingkan ke arah kastil kerajaan. Pada pagi hari Matahari dan BUlan memulai rutinitas seperti biasa, perbedaannya adalah Bulan mempersiapkan tariannya untuk dipentaskan dikastil sementara Matahari mempersiapkan lagunya untuk dipentaskan di balai kastil. Dengan gemulai Bulan mulai berlatih tepat bersamaan dengan Matahari yang mulai memetik gitarnya. Dalam ruang dan waktu yang berbeda, nada yang dinyanyikan Matahari seolah berpadu padan dengan jemari lentik yang digerakan Bulan, saling berkelindan diantara riuhnya persiapan pesta. Siang hari datang seraya semua orang bersiap untuk melihat parade yang telah disiapkan pihak kerajaan untuk rakyatnya. Dengan kereta kuda berhias emas, raja berdiri untuk lalu melambaikan tangan ke arah rakyatnya. Kereta kuda selanjutnya adalah kerta kuda milik ratu yang lalu disusul oleh kereta kuda milik para permaisuri. Pada saat itulah, untuk pertama kali, Matahari menyaksikan wajah berpupil serupa semesta milik Bulan. Paras Bulan menghentikan waktu pada kesadaran milik Matahari. Namun pada saat itulah, untuk pertama kalinya walau tanpa terpaut ruang dan waktu, mereka mengalami sesuatu yang sama sekali tidak terpaut. Bulan tidak merasakan apa-apa, ia menganggap Matahari sebagaimana rakyat biasa  lainnya karena diantara rakyat-rakyat jelata dan para pedagang pasar, Matahari tampak seperti mereka, tidak jauh berbeda. Tapi tenang! Hal tersebut akan segera berubah.
            Malam tiba dan perayaan di kastil mulai berjalan, di dalam kastil para bangsawan mulai meminum anggur yang telah disediakan oleh raja serta menikmati suguhan berbagai pentas seni yang tersedia di panggung kecil. Disana Bulan mulai menari, elok gerak gemulai jarinya menjelajah setiap mata lawan jenis di ruangan tersebut, membungkam semua mulut diruangan tersebut dan seketika menyebar sunyi ke seantero kastil. Sementara di luar kastil, tepatnya di balai kastil, rakyat mulai berjingkrak riang mengiringi lantunan musik yang dimainkan Matahari. Mereka kembali terpaut pada proses transendensi antara lantunan nada dan gemulai gerak. Namun Bulan selesai terlebih dahulu, sementara Matahari masih memetik gitarnya, semakin kencang namun semakin lirih. Diantara lilin-lilin yang diangkat ke langit oleh para penonton setia Matahari, Bulan akhirnya tergugah. Penampilan Matahari menarik perhatian Bulan, suara lirihnya yang mewakilkan kegetiran hidup di zaman yang tanpa kepastian menggugah emosi Bulan. Ia menangis, sebuah tangis yang datang entah darimana, di matanya bintang meledak, semesta tercipta.
            Seperti semua cerita klise, Bulan dan Matahari akhirnya jatuh cinta. Namun seperti semua penulis skrip yang klise, aku akan mencari sesuatu yang berbeda. Matahari yang begitu mengagumi kecantikan Bulan mulai memberanikan diri melemparkan bait demi bait puisi ke sela-sela jendela kamar Bulan. Bulan yang seorang permaisuri sangat mengenal dirinya dan mengerti fakta bahwa ia adalah seorang permaisuri. Dengan itu ia membiarkan bait demi bait puisi Matahari tak terjawab. Hari demi hari berganti, belum sedikitpun perasaan mereka berkurang namun juga belum sedetikpun mereka bertemu. Bulan tetap dengan pendiriannya dan Matahari bertahan dengan perasaannya. Hingga suatu hari Matahari sadar bahwa ia tidak akan pernah bertemu dengan Bulan, karena Bulan akan selalu berada di ujung yang berbeda, karena asing adalah nama tengah hubungan mereka. Lalu dengan berat hati ia melemparkan puisi terakhirnya yang bertajuk “Berbaringlah Diam-Diam.” Seperti cerpen karya Ray Badbury yang mengutip puisi Sarah Teasdale yang bertajuk “There Will Come Soft Rain.”  Aku akan melakukan hal yang sama untuk mengakhiri skrip ini, aku akan mengutip sebuah puisi karya Gema Mawardi yang berjudul “Berbaringlah Diam-Diam.”


Berbaringlah Diam-Diam
berbaring, berbaringlah diam-diam
bersama-sama kita akan tenggelam
hanyut di gelombang warna-warna
pendar-pendar kemilau pusaran cahaya

bulan akan mencium matari
tanah dan pohon selalu menari
di sini, di dunia kecil milik kau dan aku
langit akan selalu berwarna merah jambu

berbaring, berbaringlah diam-diam
kita akan terbang makin dalam
merasuk ke lubuk hening paling bising
dunia tanpa tangis tanpa dosa

bulan akan mencium matari
tanah dan pohon selalu menari
di sini, di dunia kecil milik kau dan aku
langit akan selalu berwarna merah jambu

Selasa, 25 Maret 2014

Rumah Kecil di Punggung Tangan

Mari analogikan semua ini sebuah film.
Dialog-dialog menohok di tiap ujung sekuen,
Dengan matahari terbenam sebagai latar,
Lalu petikan gitar yang menyusup diam-diam.
Dan kau bilang ini sesuatu yang tidak mungkin terjadi pada sepasang manusia
Tapi kita disini
Dan ini, sekarang terjadi.

Jalanan basah tersapu hujan yang bergantian datang.
Bayangan marka jalan menari lambat,
Seiring matahari dan bulan bertukar tempat.
Kau terus mengulang kata-kataku.
"Persetan dengan masyarakat!"
Kutata rapi kalimatmu.
Kubiarkan ia menggantungkan nasibnya pada "t" yang terucap tak utuh di mulutmu.
"Persean dengan masyaraka!"
Dan sekarang relakan aku untuk merapikan semua yang serba silang sengkarut ini.
Biarkanlah semesta membangun kembali diriku,
Yang terpanggang bersisa abu.

Suatu Minggu di rawannya matahari.
Suatu siang di padatnya awan di angkasa.
Sambil kunyanyikan lagu yang bercerita tentang burung yang tetiba datang serta bintang yang tetiba jatuh,
Kubiarkan kau  melengkungkan jendela, meluruskan dinding, menaruh atap dan mendirikan pintu.
Kubiarkan kau menarik garis demi garis tersebut di tanganku.
Lalu dengan pandangan berpupil serupa semesta,
Genap sudah sebuah rumah kecil di punggung tangan.



Pupil


kau serupa warna oranye yang menyala
dikala matahari termakan lautan
yang perlahan menghilang digantikan oleh bintang
kaulah semuanya
kau serupa awan-awan diangkasa
membentuk segi tak jelas
berarak menuju ke selatan
o sungguh menyenangkan
keberadaanmu
menenangkan
harum di pundakmu
dan diantaranya sebuah kacang kecil
meledak menggelegar
dalam pekat ia membentuk semesta
yang bersandar
di pupil matamu
-----------------------------------------
".....
Jadi Baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak 'kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka
....."

Potogan puisi Chairil Anwar bertajuk Tak Sepadan

Senin, 10 Maret 2014

Tuhan ternyata pernah membuat kesalahan
Bahwa dalam lupa dan dadu bertuliskan dosa
Ia ciptakan matamu
Yang beberkan rahasia semesta

Senin, 13 Januari 2014

Bak kawan lama kita akhirnya bercengkrama
Dan diantara interval dan spasi ini
Kesementaraan terasa abadi.