Minggu, 11 Maret 2012

Tulisan Amatir 1

Hancurnya Jembatan Menuju Mengingat

Oleh : Afiandi D Lacborra

Pemicu saya dalam membuat tulisan ini adalah sesi Tanya jawab yang saya lakukan dengan Ibu Anon pada saat kuliah Metadata B. Pada saat itu Ibu anon membahasa seputar perlakuan arsiparis terhadap wakil ringkas dokumen untuk karya seni. Pertanyaan pun mencuap di benak saya . Pertanyaan saya adalah “Adakah system metadata di dalam badan distributor seni seperti Record Label? Jika ada bentuknya akan seperti apa?” Jawaban yang saya dapatkan sungguh menyedihkan. Ibu Anon mengatakan bahwa di Indonesia tidak ada hal semacam itu, tidak ada standar untuk mengklasifikasikan atau membuat wakil ringkas dokumen untuk karya seni di instansi swasta. Tetapi ia mengatakan bahwa di negara lain telah terdapat standar semacam itu. Hal ini membuat saya prihatin terhadap kurangnya kesadaran khalayak seni Indonesia atas fungsi mengarsipkan. Ada pertanyaan lain yang ada di benak saya seputar posisi ilmu kearsipan terkait dengan bidang seni seperti “Adakah badan kearsipan di Indonesia yang memfokuskan diri pada pengarsipan kesenian di Indonesia baik yang kontemporer maupun tradisional?” Tetapi pertanyaan tersebut bersisa tak terjawab karena pertanyaan tidak saya tanyakan karena tidak sesuai dengan konteks mata kuliah. Sementara pertanyaan lain tak terjawab, saya mencoba menjawab satu pertanyaan yang menurut saya menjadi dasar dari dua pertanyaan diatas “Pentingkah mengarsipkan karya seni sebagai kegiatan melawan lupa seni dan budaya leluhur?”

“Pentingkah mengarsipkan karya seni sebagai kegiatan melawan lupa seni dan budaya leluhur?” Mari kita kaji pertanyaan ini. Berbagai riset dan seminar internasional yang diadakan di ITB mengungkapkan bahwa universitas, museum dan perpustakaan di Indonesia masih sangat lemah dalam mengarsipkan karya seni dan budaya. Hal tersebut mengacu pada tulisan Dimas Fuad bertajuk “Jembatan Bagi Sebuah Ingatan” [1} yang dimuat di website resmi Dewan Kesenian Jakarta. Dimas Fuad juga mengatakan bahwa pengarsipan seni sangat penting dikarenakan hal tersebut dapat menjadi jembatan generasi-generasi baru menuju seni dan budaya leluhurnya. Jika kita kehilangan jembatan ini maka generasi baru akan berjalan sendiri dengan metabolisme kreatifnya tanpa mengakar pada seni dan budaya leluhurnya dan saya yakin kita semua tahu akhirnya bahwa kelupaan generasi baru atas seni dan budaya leluhurnya akan berakibat kepada lunturnya jadi diri bangsa. Kebudayaan bangsa merupakan tanggung jawab bersama, hal ini pula merupakan tanggung jawab pemerintah. Apakah penyelenggara negara sudah melakukan tugasnya dalam mengarsipkan karya seni dalam negeri? Pertanyaan tersebut tersebut mengingatkan saya pada salah satu lembaga bernama Sinematek Indonesia.

Sinematek Indonesia[2] adalah salah satu lembaga non-profit yang disponsori oleh pemerintah yang bertugas sebagai pusat deposit film hasil karya dalam negeri. Bedanya dengan Arsip Film Jakarta adalah kontrol mutu film Arsip Film lebih ketat dibandingkan Sinematik Indonesia. Sinematik Indonesia mengumpulkan berbagai film tanpa pengecualian asal film tersebut hasil karya dalam negeri. Sinematik Indonesia pula berbagi tugas dengan Arsip Nasional dan Perpustakaan Nasional yang notabennya mempunyai tugas yang sama. Apakah diantara ketiga lembaga ini terjadi tumpang tindih tanggung jawab? Atau malah tanggung jawab mereka tidak dijalankan dengan baik? Pertanyaan tersebut tidak terlontar tanpa sebab. Sinematek Indonesia ditemukan dalam keadaan mengenaskan oleh Kineforum (wadah pemutaran film di Jakarta yang tidak bertujuan mencari keuntungan finansial dan dikelola oleh Dewan Kesenian Jakarta[2]) pada saat Kineforum mengadakan kerja sama guna menyelenggarakan perayaan Bulan Film Nasional. Hal ini tertulis pada sebuah artikel yang terdapat di situs resmi Dewan Kesenian Jakarta[3]. Di dalam artikel itu disebutkan juga bahwa Sinematek Indonesia memiliki pengelolaan arsip yang buruk dan sedang dalam keadaan finansial yang semakin kacau. Hal tersebut memicu berbagai pertanyaaan. Apakah Sinematek Indonesia sudah diberhentikan pendanaannya oleh pemerintah? Apakah pemerintah memiliki alternatif lain pengganti Sinematek Indonesia? Ataukah tanggung jawab Sinematek Indonesia akan di emban oleh Arsip Film, Arsip Nasional dan Perpustakaan Nasional? Mampukah ketiga lembaga tersebut mengemban tanggung jawab baru?

Kembali pertanyaan-pertanyaan saya diam di tempat ia dibuat, bukan karena pertanyaan tersebut berada diluar konteks, tetapi karena pertanyaan tersebut mengendap menjamur dibalik peliknya birokrasi dan buramnya kinerja penyelenggara negara. Hancurnya secara perlahan Sinematek Indonesia merupakan bukti nyata bahwa kepedulian pemerintah terhadap kearsipan budaya sangat kecil, yang pula merefleksikan prioritas seni dalam agenda mereka. Pentingnya mengarsipkan seni yang sudah saya ungkapkan tadi mungkin tidaklah cukup untuk membuat mereka merogoh sedikit uang demi kemajuan bangsa yang mereka bina. Harapan penulis hanyalah para generasi muda agar berusaha melawan penyakit “lupa” yang secara tidak langsung diciptakan oleh bobroknya sistem dan nihilnya kepedulian.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Daftar Pustaka


1. http://www.dkj.or.id/articles/seni-rupa/jembatan-bagi-sebuah-ingatan

2. http://www.sinematekindonesia.com/index.php/profile/sinematek

3. http://www.dkj.or.id/news/film/kineforum-sejarah-adalah-sekarang-5-bulan-film-nasional-2011

Sabtu, 10 Maret 2012

Cerita Pendek Amatir 2

Ruangan ini dipenuhi rak buku yang menyender pada dinding-dinding putih yang kokoh. Ada tiga pintu dengan gagang yang berbeda-beda di sisi-sisi dinding. Ada yang bergagang kayu, besi lalu ada yang model gagangnya sungguh canggih sehingga yang dapat menyentuhnya hanyalah karyawanku yang mempunyai kartu terusannya. Ditengah ruangan ini terdapat sofa yang diatur sedemikian rupa sehingga tamu-tamu pentingku nyaman berlama-lama. Lalu mejaku berada di paling belakang, membelakangi jendela. Pengaturan mejaku mirip sekali dengan pengaturan meja-meja direktur perusahaan besar. Bedanya hanya, para direktur mendireksi perusahaan sementara aku mendireksi negara. Ya, aku adalah penghuni kelas pertama di gedung kenegaraan ini, direktur dari negeri yang biru dan besar ini.

Dengan surat ini aku ingin menyampaikan salam hangat ku pada peradaban baru, jika memang ada. Dan dengan sangat berat hati aku ingin mengatakan bahwa peradaban yang kami bina tengah berada di ujung tanduk saat ini. Banyak hal yang telah kami lakukan guna mencegah kejadian ini terjadi. Dan karena hal tersebut, untuk pertama kalinya, kami bekerja sama dengan musuh bebuyutan kami. Banyak hal yang telah kami capai dengan mencampurkan dua warna major yang sepanjang sejarah manusia telah menuai banyak korban. Hasilnya tak diduga-duga, banyak hal yang telah kami capai, hal-hal yang tak dapat kami bayangkan sebelumnya, tetapi tuhan ( zat superior yang kami percaya telah menciptakan semesta ini) berbicara lain.

Petuah lama sering berpendapat bahwa tuhan berbicara dan bertindak di dalam semak-semak misteri. Aksinya sungguh mengejutkan dan dilain sisi tak terlihat. Bahkan untuk aku yang seorang presiden dari sebuah negeri adidaya yang dapat dengan mudah melihat hampir apapun yang ada di bumi ini. Hal sekecil semut yang berkalan di antartika pun dapat ku ketahui beratnya. Tetapi bodohnya aku melewatkan sebuah konstruksi besar akhir zaman ini.

Diantara rasa penyesalan dan merasa bodoh ini, akan aku beritahu beberapa rahasia kunci ku. Aku sebenarnya tak kalah bodoh dengan jutaan lebih rakyat yang aku pimpin. Aku tak kalah ceroboh dengan mereka. Aku tak kalah egois dengan sebagian besar manusia. Aku tak kalah keji dengan sebagian orang yang kalian sebut teroris, maaf, yang kami sebut teroris. Aku hanyalah skrup, penguat undang-undang konstitusi negaraku yang bobrok. Aku hanyalah obeng, peralatan kotor para ekonom dunia. Aku hanyalah jalan tol, penyalur uang bagi para konglomerat pemegang saham atas dunia. Aku adalah iblis, tetapi aku juga korban atas kebutuhan rakyatku akan kepemimpinan. Aku adalah binatang buas yang kaumku ciptakan sendiri. Yang para leluruh inginkan, yang para pemuda teriakan dan yang para elit rekomendasikan. Aku adalah hasil proses ilusi yang kaumku ciptakan dan berinama demokrasi.

Belajarlah dari peradaban kami. Carilah batu-batu sisa-sisa peradaban kami. Telitilah kuratannya, hasil pahatan zaman yang gelap dan keras tertulis diantaranya. Anggaplah kami peradaban yang hilang, karena jika memang kami ada, kami adalah hasil karya Tuhan yang paling hina. Lalu jika kalian memang akan ada, berhentilah menyebut dan menganggap diri kalian "manusia", jadilah binatang, yang memakan sesama tapi tunduk pada alam. Pada semesta.

Salam hangat dari masa lalu

-------------------------------------------------------------------------------------------------

(dari kedalaman televisi yang dipenuhi semut hitam putih terdengar suara samar-samar)

Saya Presiden Amerika Serikat.
Dengan ini menyatakan bahwa dunia sedang berada di Status Quo.
Semua orang untuk dirinya masing-masing
Negara tidak lagi menanggung keamanan, keselamatan dan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Tuhan memberkati

(suara perlahan hilang menjauh kedalam)

-------------------------------------------------------------------------------------------------

cerita lanjutannya