Pertemuan saya dengan
musik-musik dari Motion
City
Soundtrack
dapat dibilang sebuah perjalanan yang melelahkan. Waktu itu (sekitar tahun
2008-an) sekolah saya sedang keranjingan mengidentitaskan diri dengan satu
aliran musik. Kami yang bermain musik di sebuah band bisa dibilang, secara
tidak langsung, dipaksa oleh "tongkrongan" sendiri untuk memilih
salah satu dari 4 genre yang waktu itu sedang hip, genre tersebut adalah Hardcore, metal,
pop punk dan jazz.
Saya tak pernah cocok dengan Hardcore, menurut
saya secara pribadi Hardcore terlalu cepat, terlalu kasar dan saya tidak pernah
suka moshpit. Lalu metal tak pernah jadi pilihan saya sebab hingga sekarang pun
saya masih belum bisa membaca nama band metal yang ditulis dengan aksara yang mirip
dengan bentuk akar yang kebanyakan tertera di pamplet di jalanan ibu kota dan
satu alasan lain yaitu saya tak pernah suka pemujaan terhadap kematian, mayat
serta gerbang neraka tentu dengan alasan karena saya suka sekali hidup dan
belum ada rencana setelahnya. Tercoretnya hardcore dan metal dari list pilihan
genre, menyisakan saya jazz dan pop punk. Dilahirkan dari keluarga dengan
keadaan finansial yang biasa saja membuat saya kembali harus mencoret Jazz dari
list tersebut, sebab saya masih belum mampu membeli kemeja bagus atau nongkrong
di café-café mahal yang biasa
menampilkan musisi-musisi jazz tiap weekend.
Semua
proses seleksi diatas akhirnya menyisakan pop punk, tetapi harus saya akui
bahwa saya memang menyukai aliran tersebut. Pop punk berhasil menggaet hati
saya dengan riff gitar yang simpel, lirik-lirik yang diangkat dari tema sehari
hari seperti cinta yang ditunjukan
kepada kelompok “cheerleader”(sebutan untuk kelompok wanita cantik yang
nge-“geng” di sma saya) yang tak terbalaskan dan vokal pop yang catchy lengkap dengan bagi
suara nya.
Harus
diakui bahwa model Pop punk yang sedang ngetren di masa tersebut adalah model
pop punk yang dibumbui suara-suara dari
synth(dimasa itu, seketika, microkorg jadi laku, mungkin bisa dibilang
penjualan microkorg ditahun tersebut mencapai peak-nya) dan harus diakui juga bahwa salah satu band yang berlari
dengan kecepatan maksimum ke arah pendengar muda semacam saya adalah, tidak
lain tidak bukan, ya anda benar, Pee Wee Gaskins.
Dari
awal kedatangan mereka jujur saya sangat tertarik. Merupakan sebuah tereboson
bagi saya waktu itu yang melulu mendengarkan Green Day dan Blink 182 (tanpa
mendengar album terakhirnya yah, dimana
Tom Delonge mulai memasukan unsur-unsur elektronik yang nantinya ia pakai di
AVA). Saya mulai mengunduh berbagai lagu dari myspace mereka, dari Tatiana
hingga You Throw The Party We Get The Girls(lagu yang menurut saya jauh dari
konsep Dork, Geek atau apalah itu yang
menjadi identitas mereka sekarang).
Merupakan
kebiasaan saya untuk selalu mencari band
yang “mirip-mirip” dengan band yang sedang saya dengarkan. Pencarian
tersebut saya mulai dengan pertemuan saya dengan Forever The Sickest Kids yang
menurut saya mereka memang litellary sick. Tidak tahan dengan gaya musik apalagi gaya rambut mereka, saya kembali
melakukan perselancaran saya di dunia maya dan diantara hiruk pikuk pertemanan
myspace, saya menemukan Motion City Soundtrack di Top Friends salah satu teman myspace saya, seketika saya jatuh
cinta dengan “Everything Is Allright.”
Semakin
saya mengikuti musik dari Motion City Soundtrack semakin saya terbawa dengan gaya
Justin Pierre dalam menceritakan berbagai masalah hidupnya dan dari
rilisan-rilisannya kita dapat melihat perubahan cara pandang Justin Pierre terhadap masalah-masalah
tersebut. Kita dapat melihat bagaimana ia mengajak kita untuk wasted, fucked up
and die di L.G Fuad lalu tak lama ia
mengajak kita untuk memikirkan hidup ini dari bagaimana kita melihat kematian
di Everyone Will Die. Musik mereka menemukan momentum pendewasaan di album
“Go.” Belum habis saya menghapal album “Go”, saya dikagetkan dengan kabar bahwa
mereka akan melakukan tur kecil di Indonesia yang di organisir oleh Heaven Rec, label yang sepengetahuan
saya menaungi Disconnected, Closehead serta beberapa band pop punk lain.
Begitu
mendengar mereka akan menyambangi Indonesia tanpa fikir panjang saya langsung
mengatur rencana untuk menonton mereka. Kelewatan presale pertama saya langsung
beli presale kedua tepat satu hari
sebelum hajatan tersebut digelar. Bermodalkan nebeng dengan teman dan uang
didompet yang menipis, saya berangkat ke
Bandung.
Saya
datang sangat terlambat ke venue karena memang saya berangkat terlalu siang dan
lokasi venue yang lumayan terpencil. Begitu sampai saya
dikagetkan dengan sedikitnya orang yang berada di area sekitar venue dan gerbang yang seharusnya sudah dibuka tapi nyatanya masih dalam proses
penukaran tiket. Yang membuat saya semakin kaget dan sedikit kecewa adalah saya
masih harus menunggu kira-kira setengah jam lagi hingga akhirnya gerbang masuk
dibuka.
Gerbang
pun dibuka, kami dipaksa mengantri memblokade jalan yang memperlihatkan ketidak
siapan penyelenggara acara dalam mengatur antrian. Setelah mengantri tidak
terlalu lama, saya akhirnya masuk ke dalam venue. Begitu melihat bentuk ruangan
yang luas dan memiliki tribun serta bentuk yang menjorok ke atas saya langsung
teringat akan auditorium kampus saya y yang memiliki akustik ruangan yang kurang cocok untuk penampilan musik.
Perkiraan
saya ternyata benar, penangan an sound
yang tidak baik menambah buruknya efek dari akustik ruangan yang tidak baik
juga. Intro yang berupa loop drum yang dimainkan dari Ipad segera
membenarkan asumsi saya sebelumnya. Suara keluaran yang terdengar seolah kabur entah kemana
serta drum yang terdengar tidak tegas
yang ikut mengaburkan suara-suara lain merupakan hal yang saya dengar di 1
menit pertama lagu “My Favourite Accident” yang merupakan lagu pertama yang
mereka mainkan.
Selang
tiga lagu akhirnya Justin Pierre sang vokalis menyapa penonton. Begitu buruknya
akustik ruangan dan sound yang disediakan masih terasa bahkan hingga Justin
Pierre berbicara. Saya yakin semua yang ada di tempat tersebut tidak dapat
mendengar dengan jelas apa yang sebenarnya J ustin
katakan. Hanya beberapa hal yang dapat saya dengar saat itu, yaitu “….Great to be here” dan “…our next
song.”
Pada lagu ke empat , “When You’re
Around”, sound mulai membaik dan saya mulai dapat menikmati penampilan mereka.
Mereka dapat dibilang bermain dengan rapi bahkan disela-sela part lead guitar
yang dimainkan oleh Justin Pieere, ia masih sempat untuk berdansa ala robot.
Tetapi ada satu hal yang membuat saya kurang terkesima, yaitu kegiatan meludah
yang oleh Jesse Johnson (pemain keyboard/synth)
konsisten lakukan ditiap lagu Hal tersebut cukup mengganggu saya.
Selain
kebiasaan meludah Jesse Johnson mereka , ada hal lain yang mengganggu saya yaitu crowd yang jumlahnya jauh dari
ekspektasi saya dan nampak seperti crowd bayaran. Mereka bahkan tidak berteriak
di part-part lagu yang menurut saya harusnya menjadi punchline dilagu tersebut atau setidaknya nampak excited dengan beberapa silent act yang dilakukan oleh Justin Pierre. Tanpa
memperdulikan hal tersebut, saya terus berteriak meminta lagu “LG Fuad” disela pergantian lagu.
“LG Fuad” pun dimainkan tepat
setelah lagu “Timelines” yang menjadi single
di album baru mereka. Bulu kuduk saya mulai berdiri, ia tidak mempedulikan
betapa buruknya sound atau betapa “anehnya” crowd yang hadir. Saya mulai ikut bernyanyi kata demi kata di lagu
tersebut, meneriakan “Lets get fucked up
and die” dan “In this department” tepat dibagian kata tersebut muncul. Pengalaman
yang mengingatkan saya akan masa-masa SMA saya yang memang sedikit fucked up.
Selang dua lagu tanpa jeda, Justin
Pierre mulai memainkan petikan awal lagu “Even If It Kills Me.” Saya refleks
menengok ke belakang ke arah kawan saya yang sangat menyukai lagu tersebut. “Gw
merinding boy” merupakan balasan yang saya dapat dari tengokan tersebut, lalu
saya segera kembali melihat ke arah panggung. Seketika, entah datang darimana, saya mulai menitikan
sedikit air mata.
Mereka mengakhiri set list mereka
dengan “Everything’s Allright” lalu
menutup penampilan mereka di Bandung dengan dua buah encore yaitu “Dissapear” dan “Hold Me Down”. Justin menutup dengan mempromosikan tujuan terakhir tur mereka
yaitu Yogyakarta serta berterima kasih dan memuji crowd. Template semua rockstar.
Walaupun banyak lagu yang saya harap
dimainkan seperti “Resolution”, “Everyone Will Die”, “It Had To Be You” atau “Make Out Kids” tidak dimainkan, tetapi
saya lega karena semua lagu yang terdapat di setlist mereka adalah lagu-lagu yang sangat saya hafal. Disamping sound yang buruk,
penampilan mereka yang terlihat setengah hati dan crowd yang tidak seperti saya
bayangkan, dapat dibilang saya sangat menikmati penampilan Motion City Soundtrack malam itu. Menonton
mereka, bagi saya, dapat dianalogikan seperti bertemu sahabat-sahabat lama, dimana
dalam keadaan apapun saya selalu dapat menemukan dan membuka kembali
memori-memori masa lalu yang sentimentil.