Senin, 26 Agustus 2013

23,5 Derajat

Kita dikandung oleh 140 karakter yang mengikat
Yang membias informasi
Yang melenakan mata
Yang meninabobokan dengan senandung pergerakan virtual

Lamban tapi pasti, kita menjadi generasi yang bosan melihat matahari
Yang mengagungkan senja diantara pegunungan
Yang memuja-muja kenaikan rembulan
Yang tidak mempedulikan pencarian makna penciptaan

Kita jadi robot yang dicekoki oleh patron-patron sesat
Kita jadi pecandu yang menderita akan adiksi kebohongan
Kita jadi antivirus bagi anomali-anomali sosial
Dan lebih parah dari perkiraanmu, kita jadi sistem!

Lalu bumi tetap berputar mirik 23,5 derajat dan narasi diatas akan menjadi debu diantara ribuan kata yang bergerak dengan kecepatan cahaya di dunia yang kita sebut maya.






#2

Lekukan tirus rembulan menemani keberadaan ratusan cahaya yang terlihat semakin dekat, yang datang entah darimana. Letupan demi letupan memadati kupingku seraya ratusan cahaya tersebut melemparkan sinar demi sinar ke arah pendudukan. Turunlah dari sinar tersebut sesuatu yang terlihat seperti binatang dengan cakar besi di bagian tangannya, bundaran halo diatas kepalanya dan sinar merah memenuhi matanya.Terjawablah macam terang yang Ia janjikan

Teriakan demi teriakan saling menimbun satu sama lain, memadati kota yang sudah cukup padat dengan kobaran api. Bau darah  setia menemani angin utara yang semakin kencang berhembus.Tanpa fikir panjang, ku ajak kau untuk berlari. Lari yang terlalu jauh untuk diingat tetapi terlalu dekat untuk dilupakan. Lari yang meninggalkan nyawa-nyawa untuk diregang dan tubuh-tubuh untuk dihunus dibelakangnya. Lari yang menyisakan tangis di mukamu dan kengerian di mataku.

Kau tanya padaku apa yang aku rasakan. Lalu kujawab singkat dengan tatapan dingin yang dengan cepat kutarik dan kubiarkan menjelajah kesekitar api yang terlihat semakin dekat mengelilingi.
Api yang seolah menyisakan kau dan aku.
Lalu kau berkata bahwa pemandangan ini sungguh menawan.
Katamu kau hawa dan aku adam.
Di waktu yang berbeda
Di kesempatan yang berbeda
Di penciptaan ulang.

Lalu kau ajak aku untuk berdansa

Sekarang?
Sekarang.
Disini?
Disini.
Di pekat ketiadaan.
Di ujung dunia.

Kau pegang halus pinggangku dengan tanan kananmu lalu kau tempatkan tangan kirimu diudara menengadah keatas, membiarkanku memimpin.
Mengayun kekiri
Mengayun kekanan
Gerakan memutar
Terus hingga kita sama-sama lupa bahwa kita sudah diangkasa,
ditarik sekumpulan sinar untuk lalu dipisahkan.


*ceritanya cerita dibalik lagu nya erastvisu
**tapi yang dibawah ini liriknya masi basa inggris